Bank Indonesia (BI) memperkuat pengawasan dan intervensi pasar setelah nilai tukar rupiah terpantau melemah hingga menyentuh level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas mata uang di tengah tekanan ekonomi global dan eskalasi ketegangan geopolitik.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menghadiri pertemuan selama 1,5 jam di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, bersama sejumlah pejabat tinggi negara. Pertemuan tersebut membahas rencana pembangunan Indonesia Financial Center (IFC) di Bali di tengah kondisi fluktuasi mata uang yang dinamis.
Dilansir dari Detik Finance, Perry Warjiyo terpantau meninggalkan lokasi pertemuan sekitar pukul 12.06 WIB tanpa memberikan pernyataan mendalam terkait posisi rupiah. Ia hanya memberikan respons singkat kepada awak media yang menanyakan pergerakan kurs sebelum masuk ke kendaraan dinasnya.
"terima kasih" ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Koreksi nilai tukar ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga terjadi pada mayoritas mata uang di pasar negara berkembang. Bank Indonesia mencatat bahwa depresiasi rupiah masih tergolong kompetitif dibandingkan dengan beberapa negara tetangga dan kawasan Asia lainnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa pelemahan mata uang Garuda saat ini selaras dengan tren pasar internasional. Ia mencontohkan penurunan signifikan yang terjadi pada Philippine Peso sebesar 6,58% dan Thailand Baht yang melemah 5,04%.
"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya" ujar Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia.
Bank sentral berkomitmen untuk tetap berada di pasar guna memitigasi risiko volatilitas yang berlebihan. Otoritas moneter mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi, mulai dari transaksi spot hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder demi menjaga fundamental ekonomi.
"Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global" kata Erwin G. Hutapea.
| Mata Wang | Persentase Pelemahan |
|---|---|
| Philippine Peso | 6,58% |
| Thailand Baht | 5,04% |
| India Rupee | 4,32% |
| Chile Peso | 4,24% |
| Indonesia Rupiah | 3,65% |
| Korea Won | 2,29% |