Gema puisi dalam bahasa Jerman memenuhi ruangan Auditorium Ki Nartosabdo di Jaya Suprana Institute, Jakarta Utara, pada Minggu sore (31/5). Dalam acara sastra tersebut, Berthold Damshäuser membacakan salah satu mahakarya Rainer Maria Rilke yang berjudul Der Panther di hadapan para pecinta sastra.
Berthold Damshäuser, yang akrab dipanggil Pak Trum, kemudian menerjemahkan judul tersebut menjadi "Macan Kumbang". Pembacaan bait-bait puisi itu terasa magis, menggambarkan tatapan lelah seekor hewan di balik jeruji besi yang seolah-olah dunia luar sudah tidak ada lagi.
Berikut adalah penggalan bait puisi "Macan Kumbang" yang dibacakan dengan penuh penghayatan:
Bait puisi karya Rainer Maria Rilke:
- Tatapannya lelah melintasi jeruji demi jeruji hingga pandangannya tiada lagi.
- Seakan jeruji berjumlah selaksa dan di seberangnya dunia tak ada.
- Langkahnya yang anggun dan perkasa berputar-putar di sempit lingkarannya bagai tarian kekuatan memutari sumbu tempat berdiri tekad akbar terbelenggu.
- Cuma kadang tirai anak mata menyingkap bisu menyusup lah citra, rasuki senyap nan tenang di raga lalu sirna dalam jiwa.
Karya tentang macan kumbang yang terkurung ini menjadi pembuka istimewa bagi gelaran sastra hasil kolaborasi Satupena dan Jaya Suprana School of Performing Arts (JSI). Bagi Trum, puisi ini memiliki sejarah personal yang mendalam karena merupakan perkenalan pertamanya dengan sosok Rilke sewaktu ia masih muda.
Ia menceritakan bahwa puisi Der Panther tersebut ia temukan pertama kali di dalam buku pelajaran sekolah saat ia masih remaja. Sejak saat itu, puisi tersebut menjadi salah satu karya Rilke yang paling berkesan sekaligus paling ikonik di matanya.
Upaya Membawa Sastra Jerman ke Indonesia
Setelah puluhan tahun berlalu, Trum akhirnya mewujudkan kecintaannya pada Rilke melalui kolaborasi bersama penyair kenamaan Indonesia, Agus R. Sarjono. Mereka berdua berhasil menerjemahkan kumpulan puisi Rilke ke dalam bahasa Indonesia melalui buku dwibahasa berjudul "Kedalaman Terarah Padamu".
Dalam kesempatan tersebut, Trum menyatakan rasa bahagianya karena karya Rilke kini dapat dinikmati oleh khalayak luas di Indonesia. Ia menilai bahwa hasil terjemahan tersebut telah berhasil menyajikan keindahan bahasa yang selaras dengan makna aslinya.
Buku ini merupakan bagian dari proyek besar bertajuk Seri Puisi Jerman yang dikerjakan oleh Trum bersama Agus R. Sarjono. Melalui inisiatif ini, mereka berupaya menghadirkan pemikiran dan keindahan estetika dari para penyair besar Jerman ke ruang literasi lokal.
Daftar tokoh sastra Jerman yang telah diterjemahkan dalam seri ini meliputi:
- Johann Wolfgang von Goethe
- Bertolt Brecht
- Paul Celan
- Hans Magnus Enzensberger
- Friedrich Nietzsche
- Georg Trakl
Bagi Trum, menerjemahkan sebuah puisi jauh lebih menantang dibandingkan dengan menerjemahkan teks-teks umum lainnya. Menurutnya, seorang penerjemah tidak hanya memiliki tugas untuk mengalihkan makna semantik, namun juga harus mampu menjaga keindahan estetikanya.
Oleh karena itu, ia merasa proses kreatif ini tidak bisa dilakukan seorang diri tanpa melibatkan ahli bahasa lokal. Keterlibatan seorang penyair seperti Agus R. Sarjono dianggapnya sebagai kunci untuk melahirkan teks puitis yang memiliki kualitas seni tinggi.
Sosok Rilke Sebagai Raksasa Puisi Dunia
Trum menegaskan bahwa Rainer Maria Rilke bukan sekadar penyair Jerman biasa, melainkan sosok raksasa dalam kancah sastra internasional. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa utama dunia karena mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang mendalam.
Puisi Rilke dianggap tetap relevan hingga saat ini karena mengangkat tema-tema universal yang dekat dengan kehidupan manusia. Hal-hal seperti cinta, rasa sepi, kematian, hingga perjalanan spiritualitas menjadi inti dari setiap goresan pena penyair kelahiran Praha tersebut.
Menariknya, pengaruh Rilke kini telah merambah ke dunia budaya pop modern, sebuah fakta yang Trum temukan melalui riset kecil bersama teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia sempat berkelakar bahwa kepopuleran Rilke bahkan menjangkau kalangan penyanyi internasional ternama.
Ia mencontohkan bahwa penyanyi Lady Gaga memiliki tato yang berisi kutipan langsung dari salah satu puisi karya Rilke. Fakta unik ini mengundang tawa dari para hadirin, sekaligus menunjukkan betapa luasnya jangkauan pengaruh sang penyair melampaui sekat zaman.
Esensi Puisi Sebagai Bentuk Musik
Selama acara berlangsung, Trum berkali-kali menekankan bahwa cara terbaik untuk mengapresiasi puisi adalah dengan mendengarkannya. Ia berpendapat bahwa puisi pada hakikatnya adalah sebuah bentuk musik yang memiliki irama dan bunyinya sendiri.
Saat pertama kali membaca sebuah puisi baru, Trum biasanya akan menyuarakannya terlebih dahulu tanpa memusingkan maknanya. Fokus utamanya adalah mendengarkan bagaimana metrum dan irama kata-kata tersebut membentuk sebuah simfoni verbal yang harmonis.
Prinsip inilah yang kemudian diterapkan secara ketat dalam proses penerjemahan puisi-puisi Rilke bersama Agus R. Sarjono. Trum berperan penting dalam memastikan metrum dan irama aslinya tetap terjaga, sementara Agus bertugas merangkai diksi Indonesia yang tepat untuk memenuhi standar tersebut.
Ia percaya bahwa isi dan keindahan bentuk dalam sebuah puisi adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan saat diterjemahkan. Jika seorang penyair hanya ingin menyampaikan informasi, mereka pasti akan menulisnya dalam bentuk prosa biasa dan bukan dalam format puisi yang indah.
Keputusan Trum untuk memfokuskan perhatian pada Rilke di Indonesia didasari oleh besarnya minat masyarakat terhadap karya-karya penyair tersebut. Meskipun Chairil Anwar pernah menerjemahkan beberapa fragmen puisi Rilke di masa lalu, buku komprehensif yang mendedikasikan satu volume penuh untuknya belum tersedia.
Hadirnya buku "Kedalaman Terarah Padamu" diharapkan dapat mengisi kekosongan referensi sastra Jerman di Indonesia. Dengan adanya terjemahan yang lebih banyak dan mendalam, pembaca tanah air kini memiliki kesempatan lebih luas untuk menyelami pemikiran besar Rainer Maria Rilke.