Bencana Hidrometeorologi Ancam Produktivitas Kopi Gayo di Aceh

Bencana Hidrometeorologi Ancam Produktivitas Kopi Gayo di Aceh
Foto: Ilustrasi Bencana Hidrometeorologi Ancam Produktivitas Kopi Gayo di Aceh.

Sektor perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh, menghadapi tekanan berat akibat bencana hidrometeorologi yang berpotensi menurunkan produktivitas komoditas unggulan tersebut secara signifikan. Kondisi ini dilaporkan terjadi pada Jumat, 8 Mei 2026, sebagai dampak lanjutan dari anomali cuaca di wilayah pusat produksi kopi arabika.

Kawasan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah menjadi wilayah terdampak paling serius setelah dilanda banjir serta tanah longsor pada akhir 2025. Dilansir dari Detik Travel, fenomena alam ini memperburuk kondisi tanaman yang sebelumnya sudah terbebani oleh dampak perubahan iklim global.

Peneliti Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala (USK), Abu Bakar, menjelaskan bahwa kerusakan lapisan tanah atas menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan tanaman. Hilangnya nutrisi tanah tersebut berdampak langsung pada kemampuan pohon kopi untuk berproduksi secara optimal.

"Kerusakan lahan akibat longsor bisa menghilangkan lapisan tanah atas yang penting bagi tanaman kopi. Ini berdampak langsung pada produktivitas," kata Abu Bakar, peneliti dari USK.

Peningkatan curah hujan tahunan yang distribusinya tidak merata turut memicu stres pada tanaman kopi. Menurut analisis para peneliti, intensitas hujan yang tinggi dalam durasi singkat menyebabkan tanaman kelebihan air, yang berujung pada penurunan kualitas buah dan kerentanan terhadap serangan hama seperti karat daun.

"Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak," kata Zubaidah (59), seorang petani kopi di Desa Wih Delung, Kecamatan Bale Redelong, Kabupaten Bener Meriah.

Zubaidah melaporkan bahwa dari total 20 rante lahan kopi miliknya, sekitar delapan rante mengalami kerusakan fisik yang parah. Selain kehilangan tanaman, ia menyebut akses distribusi hasil kebun sempat terhambat selama beberapa hari akibat akses jalan yang terputus oleh material longsor.

"Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak," kata Zubaidah.

Sebagai langkah mitigasi, sebagian petani mulai menerapkan sistem tumpang sari dan penggunaan tanaman naungan untuk menjaga kelembapan tanah. Namun, Abu Bakar mengingatkan bahwa tanpa proses pemulihan lahan yang cepat, gangguan produksi regional ini dapat berdampak pada ekonomi menengah bagi masyarakat di dataran tinggi Gayo.

Artikel terkait

Rekomendasi