Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan sedikitnya 10 emiten perbankan yang tercatat di papan utama masih belum memenuhi ketentuan minimum saham publik atau free float hingga pemantauan per 29 April 2026. Kewajiban ini didasarkan pada penyesuaian aturan terbaru guna meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar modal.
Dilansir dari Finansial, Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar, menjelaskan bahwa kepatuhan terhadap persyaratan ini merupakan kewajiban bagi seluruh perusahaan yang terdaftar. Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan Bursa Nomor I-A dan Peraturan I-V yang mengatur batas minimum kepemilikan saham oleh publik.
"Untuk papan utama dan papan pengembangan, jumlah saham free float perusahaan tercatat paling sedikit sebanyak 50 juta saham dan paling sedikit 15% dari jumlah saham tercatat," kata Teuku Fahmi, dikutip pada Jumat (8/5/2026).
Fahmi menambahkan bahwa standar yang berbeda diterapkan bagi emiten yang berada di klasifikasi papan tertentu. Hal ini menyesuaikan dengan karakteristik dan skala perusahaan yang melantai di bursa tersebut.
"Untuk papan akselerasi, jumlah saham free float paling sedikit 7,5% dari jumlah saham tercatat," kata Teuku Fahmi Ariandar, Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI.
Otoritas bursa memberikan kelonggaran berupa masa transisi bagi emiten yang telah tercatat sebelum regulasi ini diresmikan. Penyesuaian batas waktu pemenuhan tersebut dikelompokkan berdasarkan nilai kapitalisasi pasar masing-masing perusahaan per 31 Maret 2026.
Emiten dengan kapitalisasi di atas Rp5 triliun dan memiliki free float minimal 12,5% diberikan tenggat waktu hingga 31 Maret 2027 untuk mempertahankan porsi tersebut, dan harus mencapai 15% pada 31 Maret 2028. Sementara itu, perusahaan dengan kapitalisasi di bawah Rp5 triliun diwajibkan memenuhi standar 15% paling lambat pada 31 Maret 2029.
Daftar 10 emiten bank yang belum memenuhi standar tersebut mencakup institusi besar seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dengan angka 9,3% dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) sebesar 7,5%. Berikut adalah rincian data emiten bank yang masuk dalam pantauan bursa:
| No | Kode | Perusahaan Tercatat | % Saham Free Float | Kewajiban Pemenuhan | Batas Waktu |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | AGRO | PT Bank Raya Indonesia Tbk. | 13,0% | 15,00% | 31 Maret 2029 |
| 2 | BBHI | PT Allo Bank Indonesia Tbk. | 14,1% | 15,00% | 31 Maret 2027 |
| 3 | BDMN | PT Bank Danamon Indonesia Tbk. | 7,5% | 12,50% | 31 Maret 2027 |
| 4 | BNGA | PT Bank CIMB Niaga Tbk. | 7,5% | 12,50% | 31 Maret 2027 |
| 5 | BNII | PT Bank Maybank Indonesia Tbk. | 11,2% | 12,50% | 31 Maret 2027 |
| 6 | BNLI | PT Bank Permata Tbk. | 10,0% | 12,50% | 31 Maret 2027 |
| 7 | BRIS | PT Bank Syariah Indonesia Tbk. | 9,3% | 12,50% | 31 Maret 2027 |
| 8 | BTPN | PT Bank SMBC Indonesia Tbk. | 7,9% | 12,50% | 31 Maret 2027 |
| 9 | NISP | PT Bank OCBC NISP Tbk. | 14,0% | 15,00% | 31 Maret 2027 |
| 10 | PNBN | PT Bank Pan Indonesia Tbk. | 11,9% | 12,50% | 31 Maret 2027 |