Kepala Unit Pengelolaan Wilayah III Bursa Efek Indonesia (BEI), Kemas M Rumaiyar, mengingatkan generasi Z dan milenial untuk menetapkan tujuan yang jelas sebelum membeli produk investasi. Langkah ini dinilai krusial agar investor muda tidak mengalami penyesalan di kemudian hari akibat kurangnya pemahaman terhadap instrumen yang dipilih.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi Investortrust Goes to Campus yang berlangsung di Universitas Tarumanagara, Jakarta, pada Kamis (19/10/2023). Kemas menyoroti pentingnya pola pikir yang benar sebagai landasan utama bagi masyarakat yang ingin terjun ke dunia keuangan.
ÔÇ£Ini sekadar tips dari saya, mulailah dari why. Tanyakan kepada diri sendiri kenapa saya harus melakukannya (investasi). Mindset itu penting,ÔÇØ tutur Kemas M Rumaiyar, Kepala Unit Pengelolaan Wilayah III BEI.
Kemas menjelaskan bahwa banyak individu, khususnya dari kalangan anak muda, yang masuk ke pasar modal tanpa arah yang spesifik. Hal ini seringkali berujung pada rasa kecewa ketika performa portofolio tidak sesuai dengan ekspektasi yang tidak realistis.
ÔÇ£Contoh generasi Z yang ketika pandemi Covid-19 masuk ke pasar modal, kemudian nyesek. Kenapa nyesek? Karena tidak tahu why-nya, dia masuk karena pengen kaya cepat, akhirnya kapok,ÔÇØ ujar Kemas M Rumaiyar, Kepala Unit Pengelolaan Wilayah III BEI.
Menurutnya, pasar modal menawarkan peluang yang sangat besar bagi mereka yang sudah memiliki alasan kuat untuk berinvestasi. Ia juga membandingkan keamanan pasar modal dengan instrumen digital lainnya yang sedang populer.
ÔÇ£Ini kesempatan besar, karena sudah tahu dunia pasar modal. Mendingan masuk ke sini (pasar modal) daripada masuk ke NFT atau kripto,ÔÇØ tandas Kemas M Rumaiyar, Kepala Unit Pengelolaan Wilayah III BEI.
Di sisi lain, maraknya kasus penipuan berkedok investasi menjadi perhatian serius. Kemas mengimbau agar calon investor selalu memastikan legalitas platform yang digunakan untuk bertransaksi.
ÔÇ£Jangan coba-coba, seandainya tidak terdaftar, mending hindari, masuklah di dunia pasar modal di tempat yang legal,ÔÇØ ujar Kemas M Rumaiyar, Kepala Unit Pengelolaan Wilayah III BEI.
Berdasarkan data Satgas Waspada Investasi yang dilansir dari Investortrust, total kerugian masyarakat akibat investasi bodong menyentuh angka Rp 123,5 triliun dalam rentang sepuluh tahun hingga November 2022.
Menanggapi situasi tersebut, CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu, menyatakan bahwa literasi dan inklusi keuangan merupakan kunci untuk meraih kemerdekaan finansial. Ia memaparkan empat poin utama yang harus dimiliki individu dalam menghadapi era digital.
ÔÇ£Ada 4C, yaitu critical thinking, communication skill, collaboration, dan creativity. Itu poin-poin penting untuk persiapan investasi jangka panjang,ÔÇØ tutur Primus Dorimulu, CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera.
Primus menambahkan bahwa pemahaman finansial juga berperan penting dalam visi Indonesia Emas 2045. Kualitas generasi muda dalam mengelola aset akan menentukan posisi ekonomi negara di masa depan.
ÔÇ£Mustahil Indonesia Emas 2045 bisa dicapai jika generasi muda kita tidak bisa dan tidak paham investasi, apalagi sampai terjebak investasi bodong,ÔÇØ tegas Primus Dorimulu, CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera.
Upaya peningkatan literasi ini dipandang sebagai tanggung jawab kolektif antara regulator, pelaku industri, hingga media. Target utamanya adalah membekali masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi.
ÔÇ£Investortrust.id terpanggil untuk ikut mengedukasi masyarakat dan meningkatkan literasi keuangan, khususnya di kalangan Gen Z dan milenial. Kami hadir untuk memberikan literasi keuangan kepada para pembaca untuk mencapai financial freedom,ÔÇØ ujar Primus Dorimulu, CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera.
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan di Indonesia saat ini berada pada angka 49,68%.