PT PLN (Persero) melaporkan adanya peningkatan signifikan pada total beban usaha perusahaan sepanjang Tahun Buku 2025. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, pengeluaran operasional perusahaan setrum milik negara ini menembus angka Rp533,45 triliun.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 10,04 persen jika dibandingkan dengan beban usaha pada periode 2024. Sebagai perbandingan, pada tahun sebelumnya, PLN mencatatkan beban usaha senilai Rp484,75 triliun.
Informasi ini merujuk pada laporan keuangan konsolidasian tahun 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan (PwC). Laporan tersebut dipublikasikan pada Selasa, 2 Juni 2026, dan memperlihatkan detail pengeluaran perusahaan secara transparan.
Komponen Beban Terbesar Operasional PLN
Sektor bahan bakar dan pelumas menjadi penyumbang terbesar dalam struktur pengeluaran PLN sepanjang tahun lalu. Biaya untuk kebutuhan mendasar pembangkit listrik ini mengalami lonjakan hingga 10,78 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai pengeluaran untuk bahan bakar tersebut mencapai Rp198,61 triliun pada tahun 2025. Padahal, pada periode 2024, perusahaan hanya mengeluarkan anggaran sebesar Rp179,29 triliun untuk pos yang sama.
Selain urusan bahan bakar, pengeluaran besar lainnya bersumber dari biaya pembelian tenaga listrik. PLN mengalokasikan dana yang cukup besar untuk membeli pasokan listrik guna memenuhi kebutuhan energi nasional.
Pembelian listrik ini dilakukan dari dua jalur utama demi menjaga stabilitas pasokan kepada masyarakat. Jalur tersebut mencakup kerja sama dengan pihak internal maupun pengembang listrik eksternal.
Rincian sumber pembelian listrik oleh PLN adalah sebagai berikut:- Pembelian dari Pihak Berelasi: Pengadaan listrik yang dilakukan melalui anak perusahaan atau perusahaan yang memiliki hubungan kepemilikan dan pengendalian khusus dengan PLN.
- Pembelian dari Produsen Swasta: Transaksi listrik yang dilakukan dengan Independent Power Producer (IPP) atau produsen listrik independen di luar lingkungan grup perusahaan.
Secara total, anggaran yang dihabiskan untuk pembelian listrik tersebut mencapai nilai Rp195,21 triliun. Angka ini meningkat 9,28 persen dari realisasi tahun 2024 yang saat itu berada di level Rp178,63 triliun.
Ringkasan Data Beban Usaha PLN
Berikut adalah tabel perbandingan beban usaha PLN untuk periode tahun 2024 dan 2025:
| Kategori Beban Usaha | Tahun 2024 (Triliun Rp) | Tahun 2025 (Triliun Rp) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Total Beban Usaha | 484,75 | 533,45 | 10,04% |
| Bahan Bakar & Pelumas | 179,29 | 198,61 | 10,78% |
| Pembelian Listrik | 178,63 | 195,21 | 9,28% |
Tabel di atas menggambarkan bagaimana dua komponen utama, yakni bahan bakar dan pembelian listrik, mendominasi struktur biaya PLN. Kenaikan pada kedua sektor ini secara langsung memengaruhi total beban usaha perusahaan secara keseluruhan.
Kondisi keuangan ini juga berdampak pada perolehan laba bersih perusahaan yang dilaporkan mengalami penurunan signifikan. Sepanjang tahun 2025, laba bersih PLN tercatat turun 65,8 persen menjadi Rp7,26 triliun saja.
Situasi ini terjadi di tengah dinamika sektor energi lainnya, seperti kebijakan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax yang tetap ditahan pemerintah. Hal tersebut diprediksi akan memicu nilai kompensasi yang bisa mencapai angka Rp2,3 triliun setiap bulannya.
Meskipun menghadapi beban usaha yang membengkak, PLN tetap berkomitmen menjalankan berbagai proyek strategis nasional. Salah satunya adalah persiapan lahan seluas 24 ribu hektare untuk mendukung proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GW.