BCA Pastikan Kualitas Kredit Tetap Terjaga di Tengah Pelemahan Rupiah

BCA Pastikan Kualitas Kredit Tetap Terjaga di Tengah Pelemahan Rupiah
Foto: Ilustrasi BCA Pastikan Kualitas Kredit Tetap Terjaga di Tengah Pelemahan Rupiah.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memberikan penegasan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp 17.300 per dollar AS tidak memberikan dampak signifikan terhadap portofolio kredit perseroan pada Kamis (24/4/2026).

Direktur BCA John Kosasih menjelaskan bahwa rendahnya risiko tersebut dikarenakan eksposur kredit perusahaan dalam valuta asing (valas) hanya mencapai 4,9 persen dari total portofolio. Dilansir dari Money, porsi yang sangat kecil ini menjaga kualitas kredit tetap stabil.

"Jadi kecil sekali saat ini dan kondisinya saat ini masih terjaga dengan baik. Jadi apabila terjadi perlemahan rupiah, tentu saja dampaknya pun tidak signifikan," ujar John Kosasih, Direktur BCA.

Ia memaparkan bahwa fenomena pelemahan mata uang ini justru berpotensi meningkatkan pendapatan bagi nasabah yang berorientasi ekspor dalam satuan rupiah. Namun, mayoritas pelaku usaha tetap mendambakan stabilitas nilai tukar demi kelancaran operasional bisnis mereka.

"Tentu saja para pengusaha kalau ditanya sebaiknya bagaimana? Sebaiknya kalau bisa memang stabil, itu yang diharapkan oleh para pengusaha di lapangan," ucap John Kosasih, Direktur BCA.

Pihak manajemen saat ini sedang memberikan perhatian khusus pada dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama pada sektor industri plastik yang terdampak kenaikan harga bahan baku. Meski ada tekanan sektoral, risiko kredit secara umum dipastikan tetap terkendali melalui koordinasi intensif dengan para debitur.

"Selama ini, kalau kita perhatikan, so far masih tetap terjaga dengan baik risikonya. Para nasabah ini masih tetap menjalankan usaha dengan baik dan kita akan terus memonitor kondisinya," tutur John Kosasih, Direktur BCA.

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi rupiah pada 21 April 2026 berada di level Rp 17.140 per dollar AS atau mengalami pelemahan sebesar 0,87 persen dibandingkan akhir Maret 2026. Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), mata uang Garuda sempat menyentuh Rp 17.300 sebelum akhirnya ditutup pada level Rp 17.286 per dollar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi