Harga minyak dunia mengalami fluktuasi tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026). Minyak mentah jenis Brent sempat diperdagangkan mendekati US$113 per barel sebelum akhirnya melandai ke kisaran US$109 pada sore hari waktu setempat.
Pergerakan volatil ini dipicu oleh pernyataan mengejutkan Presiden Donald Trump melalui unggahan di media sosial, seperti dikutip dari Media Indonesia. Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran karena ada negosiasi serius yang sedang berlangsung.
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut diambil atas permintaan para pemimpin dari Qatar, Arab Saudi, dan Emirat Arab. Dinamika diplomasi ini sempat membuat pasar memanas sebelum pengumuman pembatalan serangan tersebut.
Laporan Axios menyebutkan bahwa Amerika Serikat menolak proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Iran melalui mediator Pakistan. Proposal tersebut dilaporkan berfokus pada langkah-langkah pembangunan kepercayaan dari pihak Amerika.
Kantor berita Tasnim mengonfirmasi bahwa tim negosiasi Iran berupaya menawarkan kerangka kerja untuk mengakhiri konflik. Namun, ketidaksepakatan pada poin-poin krusial sempat membuat tensi militer meningkat hingga ke titik tertinggi sebelum akhirnya Trump menarik mundur rencana serangan.
Sebelum unggahan Trump meredakan kekhawatiran pasar, kontrak berjangka Brent sempat ditutup naik 2,6% pada level US$112,10 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI), patokan AS, sempat menetap turun 1% ke level US$104,38 menurut data FactSet.
Namun, menjelang sore hari setelah berita pembatalan serangan menyebar, kedua tolok ukur tersebut bergerak lebih rendah. Brent turun ke kisaran US$109 per barel, sedangkan WTI turun ke kisaran US$102 per barel.
Meskipun terjadi penurunan sore ini, secara kumulatif harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 70% sepanjang tahun ini akibat ketidakpastian di Timur Tengah. Konteks keamanan tetap tinggi setelah pejabat pertahanan Emirat Arab melaporkan serangan pesawat tak berawak (drone).
Serangan tersebut menyebabkan kebakaran di dekat stasiun pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Pertahanan udara Emirat menjatuhkan dua drone, tetapi satu drone berhasil lolos dan memicu kebakaran.
Analis dari Hargreaves Lansdown, Derren Nathan, menyoroti bahwa kekhawatiran pasokan energi sangat akut dirasakan di Timur Jauh (Asia), yang sangat bergantung pada impor minyak.
"Prospek periode harga minyak yang tinggi dalam jangka panjang memberikan beban berat pada sentimen pasar pagi ini," ujarnya.
Ketergantungan negara-negara Asia pada stabilitas Selat Hormuz membuat setiap eskalasi antara AS dan Iran berdampak langsung pada biaya energi regional dan stabilitas mata uang terhadap dolar AS.
Saat ini, pelaku pasar terus memantau perkembangan negosiasi di Pakistan untuk melihat apakah pembatalan serangan militer ini akan diikuti oleh gencatan senjata diplomatik yang lebih permanen. Pasar mengantisipasi apakah ini hanya penundaan sementara di tengah retorika jam yang terus berdetak dari Gedung Putih.