Bank Sentral Dunia Borong 244 Ton Emas pada Kuartal I 2026

Bank Sentral Dunia Borong 244 Ton Emas pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Bank Sentral Dunia Borong 244 Ton Emas pada Kuartal I 2026.

Aktivitas pembelian emas oleh bank sentral di seluruh dunia kembali menjadi perhatian utama pada awal tahun 2026. Logam mulia ini semakin memperkuat posisinya sebagai instrumen cadangan devisa yang aman di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.

Laporan Gold Demand Trends Q1 2026 dari World Gold Council (WGC), yang dikutip dari Money, mengungkapkan bahwa bank sentral tetap agresif menambah simpanan emas mereka. Meski beberapa negara melakukan penjualan, tren secara keseluruhan menunjukkan minat yang tetap tinggi terhadap aset ini.

Sepanjang kuartal pertama tahun 2026, akumulasi pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai 244 ton. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 3 persen jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pencapaian pada periode ini tercatat 17 persen lebih tinggi daripada kuartal sebelumnya dan melampaui rata-rata dalam lima tahun terakhir. Data ini membuktikan bahwa selera institusi keuangan negara terhadap emas belum meredup meski dinamika pasar terus berubah.

"Permintaan emas dari bank sentral dimulai dengan kuat pada tahun 2026, dengan perkiraan pembelian bersih sebesar 244 ton pada kuartal pertama," tulis WGC dalam laporan tersebut.

Negara-negara dengan ekonomi berkembang atau emerging markets menjadi penggerak utama dalam tren pembelian ini. Polandia mencatatkan diri sebagai pembeli terbesar dengan tambahan cadangan sebesar 31 ton, disusul oleh Uzbekistan yang menambah 25 ton.

Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkokoh ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi volatilitas global. Namun, laporan yang sama menunjukkan tidak semua otoritas moneter melakukan aksi beli pada periode yang sama.

Penjualan Emas oleh Turkiye dan Rusia

Aktivitas penjualan emas tercatat meningkat di beberapa negara seperti Turkiye, Rusia, dan Azerbaijan. Bank sentral Turkiye, misalnya, melepaskan sekitar 70 ton emas atau setara 10 persen dari total cadangan resmi mereka.

Langkah pelepasan aset oleh Turkiye tersebut dipahami sebagai upaya taktis untuk menstabilkan nilai tukar mata uang domestik yang sedang tertekan. Penjualan ini dinilai bukan merupakan pergeseran strategi jangka panjang, melainkan pemanfaatan likuiditas emas saat pasar mengalami tekanan.

Faktor pendorong utama dari tingginya permintaan emas tahun ini adalah eskalasi ketidakpastian geopolitik. Hubungan antara Amerika Serikat dan China serta konflik di Timur Tengah menjadi fokus utama yang memengaruhi prospek permintaan emas sepanjang 2026.

"Geopolitik tetap menjadi fokus utama dalam prospek permintaan emas kami pada tahun 2026," kata WGC dalam laporannya.

Diversifikasi dan Respon terhadap Suku Bunga

Selain faktor keamanan, kebijakan moneter global juga memainkan peran krusial. Ketidakpastian arah suku bunga di Amerika Serikat memicu bank sentral untuk mencari aset yang tidak memiliki risiko kredit dan tidak terikat pada mata uang negara tertentu.

Strategi diversifikasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada dollar AS. World Gold Council memproyeksikan total pembelian emas oleh bank sentral akan tetap stabil di kisaran 700 hingga 900 ton sepanjang tahun 2026.

Hal yang cukup mengejutkan adalah aksi beli tetap konsisten meskipun harga emas berada di level rekor. Pada kuartal pertama 2026, harga rata-rata emas menyentuh 4.873 dollar AS per ons, bahkan sempat menembus 5.400 dollar AS per ons pada Januari.

Harga yang melambung tinggi tersebut memang menekan sektor perhiasan yang mengalami penurunan permintaan sebesar 23 persen. Namun, dominasi investor dan bank sentral kini menjadi penopang utama pasar emas dunia, menggeser peran emas dari sekadar komoditas konsumsi menjadi aset keuangan strategis.

Artikel terkait

Rekomendasi