Bank sentral di seluruh dunia diproyeksikan bakal meningkatkan aksi borong emas dalam beberapa bulan mendatang. Langkah masif ini diperkirakan menjadi motor utama yang membantu pemulihan harga logam mulia hingga akhir tahun.
Dilansir dari Investor Daily, analisis dari Lina Thomas dan Daan Struyven dalam nota riset Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan volume pembelian emas oleh sektor publik meningkat hingga menyentuh rata-rata 60 ton per bulan sepanjang 2026.
Berdasarkan kerangka perhitungan terbaru yang telah direvisi, rata-rata pergerakan pembelian dalam 12 bulan terakhir berada di angka 50 ton per Maret. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan estimasi formula sebelumnya yang hanya sebesar 29 ton.
"Ada ketertarikan fundamental yang sangat kuat dari bank-bank sentral terhadap emas. Perkembangan geopolitik global baru-baru ini kemungkinan besar akan semakin memperkuat urgensi mereka untuk melakukan diversifikasi aset," tulis para analis tersebut dengan mengacu pada hasil survei internal mereka seperti dikutip Bloomberg internasional, Senin (18/5/2026).Performa emas global sempat terseok-seok sejak meletusnya perang di Timur Tengah. Konflik tersebut mengerek biaya energi global yang berujung pada lonjakan tekanan inflasi di berbagai negara.
Situasi ini membuat bank sentral dunia termasuk The Federal Reserve (The Fed) AS enggan melonggarkan kebijakan moneter mereka. Pasar obligasi global pun mengalami aksi jual massal di tengah ketidakpastian perang yang belum menemui titik terang.
Kondisi pasar obligasi tersebut otomatis memberikan tekanan berat pada emas. Hal ini mengingat status emas sebagai aset aman yang tidak memberikan imbal hasil harian jika dibandingkan dengan obligasi pemerintah.
Kendati demikian, penilaian optimistis Goldman Sachs sejalan dengan laporan Dewan Emas Dunia (World Gold Council). Lembaga tersebut mengestimasi total pembelian emas oleh bank sentral global mencapai 244 ton pada kuartal I-2026, naik dari 208 ton pada tiga bulan sebelumnya.
Harga emas spot bergerak di kisaran US$ 4.530 per troy ons pada perdagangan Senin. Posisi ini melandai jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sejarah yang sempat menyentuh angka tepat di bawah US$ 5.600 per troy ons pada akhir Januari 2026.
Meski sedang terkoreksi, Goldman Sachs tetap mempertahankan target optimistis bahwa harga emas akan kembali mendaki ke level US$ 5.400 per troy ons pada akhir tahun ini. Proyeksi senada sebelumnya juga dikeluarkan oleh UBS Group AG dan ANZ Group Holdings Ltd.
Namun untuk jangka pendek, Goldman Sachs mengimbau pelaku pasar untuk tetap berhati-hati. Emas dinilai berpotensi menjadi sumber dana segar yang paling cepat dicairkan jika investor swasta mendadak membutuhkan likuiditas tinggi.
"Hal ini biasanya terjadi jika pasar saham mengalami kejatuhan di tengah tren suku bunga tinggi dan melemahnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi," pungkas analis Goldman.Emas memegang peran vital dalam arsitektur keuangan global sebagai pilar utama dari cadangan devisa suatu negara. Aset fisik ini memiliki nilai intrinsik abadi dan tidak dapat didevaluasi oleh pemerintah mana pun, berbeda dengan mata uang kertas yang nilainya dapat tergerus inflasi.
Tren peningkatan pembelian emas oleh bank sentral pada 2026 dipicu oleh pembekuan aset mata uang asing dalam konflik geopolitik dan ancaman inflasi global akibat Perang Iran. Banyak bank sentral di negara berkembang kini memandang ketergantungan berlebih pada dolar AS sebagai risiko politik yang besar.
Emas menjadi pilihan diversifikasi terbaik karena aset ini bebas dari risiko gagal bayar pihak ketiga dan tidak dapat disita secara digital. Karakteristik tersebut menjadikannya benteng pertahanan terakhir bagi kedaulatan ekonomi sebuah negara.