Bank Sampah Cemara Olah Limbah Jadi Biaya Pendidikan dan Santunan

Bank Sampah Cemara Olah Limbah Jadi Biaya Pendidikan dan Santunan
Foto: Ilustrasi Bank Sampah Cemara Olah Limbah Jadi Biaya Pendidikan dan Santunan.

Warga RW 01 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, memanfaatkan pengelolaan sampah melalui Bank Sampah Cemara untuk mendanai kegiatan sosial dan pendidikan sejak Mei 2026. Dilansir dari Megapolitan, sistem ini memungkinkan warga menukar limbah plastik hingga minyak jelantah menjadi dana santunan anak yatim serta operasional sekolah.

Bank Sampah Cemara menerapkan skema harga khusus untuk komoditas limbah yang disetorkan warga. Satu kilogram botol plastik dihargai Rp3.000, sementara tutup botol senilai Rp2.000, dan minyak jelantah dibeli seharga Rp5.000 per liter guna mendukung aktivitas komunitas.

Pengelola Bank Sampah Cemara, Ita, menjelaskan bahwa para kader Dasawisma dan PKK rutin mengumpulkan sampah rumah tangga untuk disedekahkan secara kolektif setiap tahun. Dana yang terkumpul dari aksi pilah sampah tersebut biasanya mencapai angka Rp3 juta dalam satu periode tahunan.

"Saya dan kader khususnya, mengumpulkan itu (sampah) untuk disedekahkan lagi setiap tahunnya. Seperti nanti kita bikin acara pengajian di bulan puasa, terus hasilnya disantuni buat anak yatim," ucap Ita, Pengelola Bank Sampah Cemara.

Pemanfaatan hasil penjualan sampah juga merambah ke sektor infrastruktur dan pendidikan di lingkungan RT 07 dan RT 09. Dana tersebut digunakan untuk membantu pembangunan musala hingga membayar upah guru les bagi anak-anak warga sekitar.

"Hasilnya, yang di RT 09 saja bisa buat bayar guru les. Di RT 07, hasil memilah sampah bisa buat bantu bangun musala sedikit-sedikit, beli kekurangannya apa," sambung Ita.

Sektor pendidikan anak usia dini juga mendapatkan dampak langsung melalui kebijakan unik di sekolah PAUD setempat pada Rabu (6/5/2026). Orang tua murid diperbolehkan membayar biaya sekolah dengan menyetorkan dua kilogram sampah botol plastik setiap bulan.

Uang hasil setoran sampah murid digunakan untuk membayar gaji empat guru PAUD yang berkisar antara Rp500.000 hingga Rp800.000 per bulan. Namun, Ita mengakui bahwa pendapatan dari sampah sering kali tidak mencukupi, sehingga pengurus RW harus menggunakan dana operasional internal untuk menutupi kekurangan gaji tersebut.

Erlina, warga RT 01 yang juga pengurus bank sampah, menyatakan telah terbiasa memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Ia rutin menyetorkan sekitar lima kilogram sampah plastik setiap dua minggu untuk tujuan amal.

"Ditabung. Tabungan itu digunakan untuk amal ke musala," ujar Erlina, Warga RT 01.

Selain menjalankan fungsi pencatatan dan penimbangan, Erlina menyebut kegiatan ini mengubah persepsinya terhadap limbah. Ia kini mengolah sisa sayuran menjadi pupuk daripada membuangnya secara cuma-cuma.

"Tugas saya memisahkan sampah, menimbang, lalu mencatat jika ada anak PAUD yang ingin mengumpulkan sampah. Kami mencatatnya di buku sambil melakukan penimbangan," sambung Erlina.

Humas Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Yogi Ikhwan, menyatakan dukungan terhadap inisiatif warga karena efektif mengurangi beban sampah di TPA Bantargebang. Bank Sampah Cemara juga memanfaatkan maggot untuk mengurai 80 hingga 100 kilogram sampah organik setiap hari.

"Komposisi sampah organik mencapai 50 persen dari total sampah rumah tangga di Jakarta. Kalau bisa diolah di sumber, beban ke TPA berkurang drastis," kata Yogi Ikhwan, Humas DLH Jakarta.

Yogi menambahkan bahwa produk pakan ternak dari maggot memerlukan pengawasan ketat lintas dinas untuk memastikan standar mutu. DLH terus mendorong bank sampah agar melakukan uji laboratorium secara rutin demi keamanan produk.

"Untuk produk pakan ternak yang dihasilkan dari maggot, pengawasan tidak semata-mata berada di tangan DLH. Ada irisan kewenangan dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) serta Kementerian Pertanian terkait standar mutu pakan," tutur Yogi.

Pakar Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menekankan pentingnya peningkatan status bank sampah dari sekadar kegiatan sukarela menjadi infrastruktur kota. Saat ini, kontribusi bank sampah di Indonesia terhadap pengelolaan daur ulang masih berada di kisaran tujuh persen.

"Bank sampah harus naik kelas dari kegiatan sukarela menjadi infrastruktur sosial-ekologis kota," kata Mahawan Karuniasa, Pakar Lingkungan Universitas Indonesia.

Mahawan menyoroti tantangan konsistensi operasional mengingat sekitar 37 persen bank sampah di Jakarta pada tahun 2025 tercatat tidak aktif. Optimalisasi pengelolaan sampah organik sangat krusial untuk menekan emisi gas rumah kaca di tempat pembuangan akhir.

"Dampak paling signifikan adalah pengurangan emisi metana dan lindi dari sampah organik yang membusuk di TPA," tutur Mahawan.

Artikel terkait

Rekomendasi