Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah yang Tembus Rp 17.400 per Dolar

Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah yang Tembus Rp 17.400 per Dolar
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah yang Tembus Rp 17.400 per Dolar.

Bank Indonesia (BI) memberikan respons terkait kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan hingga menyentuh level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5/2026) pagi. Tekanan terhadap mata uang garuda ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global yang berdampak pada pasar keuangan.

Dilansir dari Detik Finance, data Bloomberg menunjukkan nilai tukar dolar AS menguat 6 poin atau sekitar 0,03 persen ke level Rp 17.400 pada pukul 09.02 WIB, Jumat (17/4/2026). Pergerakan mata uang Paman Sam tersebut sempat dibuka pada angka Rp 17.404 setelah ditutup di level Rp 17.396 pada hari sebelumnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa fluktuasi rupiah saat ini masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara-negara berkembang lainnya. Faktor ketegangan geopolitik menjadi penyebab utama mayoritas mata uang mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," ujar Erwin dalam keterangan tertulis.

Data perbandingan menunjukkan bahwa tingkat pelemahan rupiah sebesar 3,65 persen masih berada di bawah tekanan yang dialami Philippine Peso sebesar 6,58 persen dan Thailand Baht 5,04 persen. India Rupee dan Chile Peso juga mencatatkan pelemahan masing-masing sebesar 4,32 persen dan 4,24 persen, sementara Korea Won terkoreksi 2,29 persen.

Perbandingan Pelemahan Mata Utama Terhadap Dolar AS
Mata UangPersentase Pelemahan
Philippine Peso6,58%
Thailand Baht5,04%
India Rupee4,32%
Chile Peso4,24%
Indonesia Rupiah3,65%
Korea Won2,29%

Menghadapi situasi tersebut, pihak Bank Indonesia memastikan akan mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar valuta asing. Langkah ini mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas fundamental ekonomi.

"Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global," kata Erwin.

Secara akumulatif, nilai tukar dolar AS telah menguat sebesar 4,32 persen dalam perhitungan tahunan. Berdasarkan catatan historis 52 minggu terakhir, mata uang Amerika Serikat tersebut diperdagangkan pada rentang harga Rp 16.079 hingga mencapai puncaknya di angka Rp 17.404.

Artikel terkait

Rekomendasi