Bank Indonesia Berpotensi Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah

Bank Indonesia Berpotensi Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Berpotensi Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah.

Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 20 Mei 2026. Langkah ini dipertimbangkan demi menjaga stabilitas moneter nasional.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp17.700 per dolar AS menjadi pemicu utama. Kondisi ini terjadi akibat tingginya harga minyak dunia dan tekanan eksternal lainnya.

Otoritas moneter perlu memperkuat kebijakan karena penggunaan cadangan devisa sebesar 10 miliar dolar AS dinilai belum cukup efektif. Seperti diberitakan oleh Suara, peluang kenaikan suku bunga BI terbuka dalam Rapat Dewan Gubernur hari ini.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5,00 persen kini jauh lebih besar dibandingkan opsi mempertahankan suku bunga. Upaya tersebut dilakukan demi melindungi pasar domestik dari guncangan global.

"BI perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 5,00 persen karena rupiah telah menyentuh sekitar Rp17.700 per dolar AS dan BI sudah menggunakan lebih dari 10 miliar dolar AS cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk stabilisasi rupiah," katanya.

Menurut Josua, urgensi kebijakan ini didorong oleh realitas pasar valuta asing saat ini. Meskipun inflasi pada April 2026 terkendali di level 2,42 persen, risiko depresiasi mata uang terhadap harga barang impor tetap mengintai.

Penurunan suku bunga hampir mustahil dilakukan saat ini karena tekanan hebat dari imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bertengger di level 4,60 persen. Kondisi tersebut diperparah oleh terkoreksinya pasar obligasi dan saham domestik.

Posisi cadangan devisa pada Maret yang mencapai 148,2 miliar dolar AS telah menyusut menjadi 146,2 miliar dolar AS pada bulan berikutnya. Penyusutan ini dipicu oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi pasar.

"Jika BI hanya mengandalkan intervensi valas, SRBI, DNDF, dan operasi moneter tanpa menaikkan suku bunga, pasar bisa menilai bahwa respons kebijakan belum cukup kuat," ujar Josua.

Opsi untuk mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen sebenarnya tidak tertutup sama sekali jika BI ingin menghindari beban tambahan terhadap sektor kredit, UMKM, dan konsumsi masyarakat. Namun, pasar berisiko kehilangan kepercayaan karena harga minyak Brent sudah menyentuh 110 dolar AS per barel.

"BI harus menyampaikan pesan yang sangat tegas bahwa kenaikan suku bunga tetap terbuka jika rupiah terus melemah, sambil memperkuat operasi pasar valas, SRBI, dan stabilisasi SBN. Jadi, pilihan paling kredibel besok adalah menaikkan secara terbatas; pilihan kedua adalah menahan dengan sikap sangat tegas; sedangkan menurunkan suku bunga belum tepat dalam situasi saat ini," tandasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi