Bank Indonesia Berpeluang Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah

Bank Indonesia Berpeluang Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Berpeluang Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah.

Nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Mei 2026. Langkah intervensi ini diproyeksikan untuk menahan tekanan mata uang domestik di tengah gejolak geopolitik global yang dilansir dari Money.

Kondisi pasar keuangan dalam negeri kini dibayangi kekhawatiran setelah kurs rupiah sempat menembus kisaran Rp17.700-an per dollar AS. Selain tekanan eksternal, penurunan cadangan devisa nasional yang signifikan turut mempersempit ruang pelonggaran moneter domestik.

Data ekonomi menunjukkan cadangan devisa Indonesia menyusut dari 156,47 miliar dollar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 146,20 miliar dollar AS per akhir April. Menanggapi situasi tersebut, Manulife Aset Manajemen Indonesia memberikan analisis terkait kebijakan yang mungkin diambil oleh otoritas moneter.

ÔÇ£Secara historis, kondisi penurunan cadangan devisa signifikan dapat memberi tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga,ÔÇØ kata Senior Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5/2026).

Menurut Syuhada, pelemahan mata uang garuda dipengaruhi oleh persepsi pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi dalam negeri serta tingginya permintaan musiman dollar AS di kuartal kedua. Guna meredam volatilitas, BI sebelumnya telah mengintervensi pasar valuta asing, menaikkan imbal hasil SRBI 12-bulan ke level 6,5 persen di awal Mei, serta meningkatkan repo rate menjadi 5,1 persen.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar yang fluktuatif ini juga memicu reaksi dari para analis pasar modal. Momentum Rapat Dewan Gubernur BI pekan ini dipandang krusial oleh para pelaku pasar komoditas dan saham.

ÔÇ£Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026,ÔÇØ ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta.

Nafan menilai bahwa kebijakan penyesuaian suku bunga acuan tersebut merupakan bentuk intervensi nyata dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Tekanan global yang meningkat memaksa otoritas mengambil langkah tegas demi melindungi instrumen keuangan domestik.

ÔÇ£Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan rupiah, dan bila direspons positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam,ÔÇØ beber Nafan.

Depresiasi rupiah yang tajam dinilai mencerminkan kenaikan persepsi risiko investor terhadap pasar aset di Indonesia. Dampak penurunan nilai mata uang ini turut menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang saat ini masih berada dalam tren volatil.

ÔÇ£Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dollar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia,ÔÇØ tutup Nafan.

Artikel terkait

Rekomendasi