Bank Indonesia Optimistis Rupiah Menguat Setelah Suku Bunga Naik

Bank Indonesia Optimistis Rupiah Menguat Setelah Suku Bunga Naik
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Optimistis Rupiah Menguat Setelah Suku Bunga Naik.

Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat setelah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Langkah itu melengkapi kebijakan seperti penyesuaian struktur bunga SRBI dan intervensi pasar lainnya guna memikat dana asing masuk ke RI, seperti dikutip dari Investor Daily.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa kenaikan BI-Rate menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya gejolak global. Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga telah meningkatkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,21%, 6,31%, dan 6,45% masing-masing untuk tenor enam, sembilan, dan 12 bulan per 13 Mei 2026.

ÔÇ£Kami meyakini dengan penguatan BI-Rate akan menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Dengan terus melakukan intervensi, dengan kenaikan BI-Rate, juga dengan perubahan struktur suku bunga SRBI, kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri,ÔÇØ ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Mei, Rabu (20/5/2026).

Menurut Perry, kebijakan menaikkan BI-Rate ditempuh bank sentral sebagai langkah pre-emptive untuk meredam dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5┬▒1%.

ÔÇ£Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada stabilitas untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak gejolak global. Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan,ÔÇØ jelas Perry.

Ia menilai kombinasi kenaikan BI-Rate, penguatan SRBI, dan intervensi pasar akan meningkatkan daya tarik investasi di pasar domestik sekaligus memperkuat stabilitas rupiah.

Perry memperkirakan nilai tukar rupiah mulai pulih pada triwulan III-2026. Pada 19 Mei 2026, rupiah tercatat berada di level Rp 17.700 per dolar AS atau melemah 2,20% point to point dibandingkan akhir April 2026.

ÔÇ£Insyaallah nanti di bulan Juli, Agustus itu rupiah akan menguat. Kami sudah menjelaskan kenapa rupiah selama ini mengalami tekanan. Dalam berbagai kesempatan saya sampaikan bahwa nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya masih undervalue,ÔÇØ kata Perry.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu belakangan ini dipicu meningkatnya turbulensi ekonomi global yang mendorong arus modal keluar dari negara berkembang (emerging markets) dan memperkuat dolar AS. Sementara dari sisi domestik, permintaan valuta asing pada triwulan II-2026 juga meningkat karena faktor musiman, termasuk kebutuhan pembayaran dividen dan utang luar negeri.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar non-deliverable forward (NDF) offshore maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, BI memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold pembelian tunai valas tanpa underlying, peningkatan threshold DNDF/forward, serta peningkatan threshold transaksi swap sejak April 2026.

Bank sentral juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing melalui transaksi spot dan swap offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah serta memperluas transaksi Local Currency Transaction (LCT).

ÔÇ£Ke depan, BI meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen BI, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,ÔÇØ pungkas Perry.

Artikel terkait

Rekomendasi