Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,25 Persen Demi Stabilitas

Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,25 Persen Demi Stabilitas
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,25 Persen Demi Stabilitas.

Bank Indonesia menetapkan kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis points menjadi 5,25 persen sebagai langkah defensif guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Kebijakan moneter tersebut diambil demi meredam dampak penguatan tekanan global terhadap perekonomian dalam negeri.

Langkah penyesuaian suku bunga ini dilansir dari Investor Daily dinilai tepat untuk mengamankan nilai tukar rupiah. Kebijakan ini juga berfungsi mengantisipasi penyebaran risiko inflasi yang lebih luas akibat ketidakpastian eksternal.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa keputusan otoritas moneter tersebut sangat dibutuhkan dalam kondisi pasar saat ini.

ÔÇ£Dalam situasi seperti ini, BI perlu menjaga daya tarik aset rupiah agar arus modal asing tetap terjaga dan tekanan terhadap rupiah tidak berkembang menjadi tekanan harga yang lebih besar,ÔÇØ ujar Josua saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).

Gejolak geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Selain itu, pergerakan modal global yang beralih ke aset aman turut memicu pelemahan mata uang domestik.

Pada Kamis (21/5/2026) sore, mata uang rupiah ditutup melemah 13 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 17.667 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.654 per dolar AS. Josua berpendapat bahwa membiarkan pelemahan rupiah terlalu dalam akan memicu biaya ekonomi yang jauh lebih besar seperti pembengkakan subsidi energi.

Meskipun kebijakan ini berisiko meningkatkan biaya dana, Josua melihat ketahanan likuiditas perbankan saat ini masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

ÔÇ£Artinya, transmisi kenaikan suku bunga ke sektor riil belum menunjukkan pelemahan yang tajam. Mesin kredit masih berjalan meski risiko perlambatan tetap perlu diwaspadai jika suku bunga tinggi berlangsung terlalu lama,ÔÇØ kata Josua.

Data Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menunjukkan kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98 persen secara tahunan. Kredit investasi memimpin dengan pertumbuhan 19,48 persen, disusul kredit konsumsi 6,13 persen, dan kredit modal kerja sebesar 6,04 persen.

Kenaikan BI-Rate diproyeksikan bakal mengerek suku bunga kredit perbankan seperti KPR dan kredit kendaraan secara bertahap. Josua mengingatkan pemerintah untuk tetap mengawasi dampaknya terhadap daya beli kelompok masyarakat kelas menengah.

ÔÇ£Risiko perlambatan memang ada, tetapi belum menjadi skenario utama selama konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan pertumbuhan kredit masih terjaga,ÔÇØ imbuhnya.

Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh kuat sebesar 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026 dengan inflasi April 2026 yang terjaga di level 2,42 persen. Guna mempertahankan momentum ini, pemerintah disarankan memperkuat instrumen fiskal melalui subsidi energi tepat sasaran dan percepatan belanja produktif bagi sektor UMKM.

Artikel terkait

Rekomendasi