Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Mei 2026. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan beban cicilan kredit masyarakat seperti KPR, kredit kendaraan, hingga kredit tanpa agunan.
Langkah penyesuaian suku bunga ini menjadi yang pertama dalam dua tahun terakhir sekaligus melampaui ekspektasi pasar, seperti dilansir dari Money. Selain menetapkan BI Rate, bank sentral juga menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 4,25 persen dan lending facility sebesar 6 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk memperkuat nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hingga Rp17.745 per dollar AS. Kenaikan suku bunga diharapkan mampu menarik modal asing di tengah gejolak konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia.
ÔÇ£Peningkatan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah, serta langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah,ÔÇØ ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Meskipun BI Rate naik, bank sentral mencatat likuiditas perbankan masih longgar dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga mencapai 25,39 persen pada April 2026. Oleh karena itu, perbankan diminta untuk tetap menjaga efisiensi biaya guna menahan lonjakan bunga kredit.
ÔÇ£Kami meminta bank-bank juga meningkatkan efisiensi supaya jangan menaikkan suku bunga kredit. Efisiensi harus ditingkatkan supaya betul-betul mendorong kredit,ÔÇØ kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Pertumbuhan kredit perbankan itu sendiri tercatat tumbuh 9,98 persen secara tahunan pada April 2026, naik dari bulan sebelumnya sebesar 9,49 persen. BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini tetap berada pada rentang 8 hingga 12 persen.
ÔÇ£Likuiditas di pasar uang dan perbankan lebih dari cukup bagi bank untuk menyalurkan kredit dan meminimalkan dampaknya terhadap kenaikan suku bunga,ÔÇØ tutur Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Di sisi lain, peningkatan bunga acuan ini berpotensi paling cepat berdampak pada debitur KPR dengan skema bunga mengambang atau floating rate. Penyesuaian cicilan tersebut diperkirakan terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan tergantung kebijakan masing-masing bank.
ÔÇ£Kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan,ÔÇØ sebut Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Melalui bauran kebijakan moneter yang diterapkan, BI optimistis tingkat inflasi nasional tetap terkendali. Bank sentral juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik masih akan terjaga di tengah situasi ketidakpastian pasar global saat ini.
ÔÇ£Kami juga menakar bahwa mampu mengendalikan inflasi dalam sasaran dan juga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih tetap berada dalam kisaran 4,9 sampai 5,7 persen,ÔÇØ ungkap Perry Warjiyo, Gubernur BI.