Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen

Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen.

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026, seperti dilansir dari Kontan. Kebijakan ini diambil untuk menahan tekanan inflasi impor atau imported inflation akibat pelemahan rupiah dan lonjakan harga komoditas global.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman menjelaskan bahwa tekanan inflasi impor saat ini dipicu oleh kenaikan harga bahan baku industri, pangan impor, hingga energi. Kondisi tersebut terjadi akibat adanya gejolak global serta konflik geopolitik.

Meski demikian, dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah dilaporkan mulai berkurang. Hal ini dipengaruhi oleh adanya pendalaman pasar keuangan serta tersedianya instrumen lindung nilai atau hedging.

ÔÇ£Karena kita sudah melakukan proses pendalaman pasar uang kemudian juga transaksi hedging yang tersedia dan terlebih lagi tentang komitmen kebijakan BI dalam menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah, maka angka exchange rate pass through ini dari pengamatan kami semakin lama semakin kecil,ÔÇØ ujar Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia dalam konferensi pers pada Rabu (20/5/2026).

Namun, Bank Indonesia menilai bahwa kewaspadaan terhadap inflasi impor tetap diperlukan mengingat harga komoditas global yang terus menanjak. Kenaikan ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz, yang mengganggu rantai pasok dunia.

Ketegangan geopolitik tersebut mendorong lonjakan harga minyak Brent hingga menyentuh angka US$ 93 per barel pada awal pekan ini secara year to date. Dampak kenaikan ini juga merembet ke komoditas energi lainnya.

ÔÇ£Tidak saja harga minyak, tetapi juga LNG yang diproduksi Qatar, termasuk harga-harga substitusi seperti batu bara, CPO, nikel, dan lain-lain juga mengalami peningkatan,ÔÇØ kata Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Kenaikan harga komoditas energi global ini mulai memengaruhi harga domestik melalui penyesuaian harga BBM non-subsidi dan avtur yang menekan administered prices. Di sisi lain, inflasi inti dan volatile food terpantau masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali.

Sebagai langkah penguatan, Bank Indonesia juga terus bersinergi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

ÔÇ£Kami memperkirakan inflasi selama 2026-2027 masih terjaga pada sasarannya 2,5% plus minus 1%,ÔÇØ ujar Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi