Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,25 Persen

Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,25 Persen
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,25 Persen.

Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur periode 19-20 Mei 2026 untuk merespons depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat.

Langkah moneter ini dilansir dari Investasi dinilai belum cukup kuat untuk mengangkat nilai mata uang Garuda secara signifikan karena tekanan pasar keuangan global yang bergerak sangat cepat.

Data perdagangan pada hari Rabu (20/5/2026) menunjukkan kurs rupiah di pasar spot sebenarnya ditutup menguat Rp52 atau 0,29 persen ke posisi Rp17.654 per dolar Amerika Serikat dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.706.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai kebijakan pengetatan moneter terbaru dari bank sentral tersebut cenderung terlambat dibandingkan dengan laju tekanan eksternal.

"BI Rate terlambat naik, jadi respons ini below the curve. Kenaikan 50 bps membuktikan bahwa kebijakan ini berada di belakang kurva, sementara pelemahan rupiah sudah terlalu dalam," ujar Yanuar.

Menurut Yanuar, lonjakan imbal hasil obligasi di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman masih menjadi motor utama yang menekan mata uang negara berkembang.

"Yield US Treasury, Japan Government Bond, dan German Bond naik tajam, jadi tekanan terhadap rupiah masih tinggi dari sisi pasar," katanya.

Selain ketidakpastian global, sentimen dari dalam negeri berupa tata kelola respons pemerintah dalam manajemen ekonomi dianggap belum sepenuhnya searah dengan ekspektasi pelaku pasar.

"Dari sisi domestik, tata kelola respons pemerintah dalam mengelola ekonomi juga melawan pasar," imbuhnya.

Yanuar menambahkan bahwa risiko kejatuhan rupiah ke level yang lebih rendah masih terbuka lebar apabila kombinasi tekanan global dan domestik tidak kunjung mereda.

"Saya denger Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bilang anualized volatitility rate 20 hari 5,5%, tapi kalau itungan saya sih 8,5%-9%. Anggap aja angka BI, artinya potensi per bulan melemah 5,5%. Kalau terus ditekan, ya soal waktu kan ke Rp 18.000. Dan, soal waktu juga geser ke lebih atas lagi," imbuh Yanuar.

Melalui perhitungan volatilitas tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan memiliki skenario optimistis menguat hingga Rp16.500 per dolar Amerika Serikat pada Juli 2026 atau skenario pesimistis melemah ke Rp18.500.

"Kalau lihat yield negara maju naik, tekanannya ke atas. Ditambah isu-isu domestik, ya bisa tambah ke atas," tutup Yanuar.

Artikel terkait

Rekomendasi