Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen

Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,25 Persen.

Bank Indonesia memutuskan meningkatkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin hingga mencapai posisi 5,25 persen pada Rabu (20/5/2026). Langkah strategis tersebut diambil sebagai upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah agar kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat.

Keputusan penyesuaian moneter ini turut diikuti oleh kenaikan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen, serta suku bunga Lending Facility yang juga naik 50 basis poin ke level 6 persen, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini secara fundamental masih berada di bawah nilai wajarnya akibat tekanan sentimen global. Kondisi tersebut dipicu oleh kebijakan tarif global, ketegangan geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, serta ketatnya suku bunga acuan di Amerika Serikat.

"Dengan harga minyak yang tinggi, pertumbuhan yang global yang menurun, inflasi global yang naik, arah suku bunga moneter di berbagai negara yang cenderung ketat termasuk Fed Fund Rate, suku bunga Yield, US Treasury yang meningkat tinggi dan dolar yang menguat. Itu faktor yang memberikan tekanan kepada pelemahan nilai tukar di hampir seluruh dunia termasuk rupiah," jelas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Selain faktor global, tekanan terhadap mata uang nasional juga dipengaruhi oleh lonjakan kebutuhan valuta asing domestik yang bersifat musiman sejak April hingga Juni. Kebutuhan tersebut mencakup pendanaan ibadah haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta distribusi dividen perusahaan.

"Itu yang kemudian kondisi global yang mengakibatkan capital outflow di tengah permintaan valas domestik hingga Juni memang itu masih tinggi," terang Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Meskipun menghadapi tekanan eksternal dan internal, kondisi makroekonomi Indonesia dinilai tetap positif dengan inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta defisit transaksi berjalan yang terjaga. Bank Indonesia juga melakukan intervensi intensif di pasar valas guna mendongkrak suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia demi membalikkan arus modal asing.

"Kenapa kami meyakini ini akan stabil di bulan Juni dan akan cenderung menguat pada bulan Juli dan Agustus? Kalau kita melihat histori itu memang rupiah itu mendapat tekanan April, Mei, Juni. Tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus. Kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan," pungkas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi