Bank Indonesia Intervensi Rupiah Hingga Cadangan Devisa Maret 2026 Turun

Bank Indonesia Intervensi Rupiah Hingga Cadangan Devisa Maret 2026 Turun
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Intervensi Rupiah Hingga Cadangan Devisa Maret 2026 Turun.

Bank Indonesia terus berupaya meredam gejolak nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp 17.000 hingga mencapai puncaknya di angka Rp 17.300.

Langkah stabilisasi tersebut berdampak pada posisi cadangan devisa Indonesia yang mengalami penurunan pada periode Maret 2026.

Dilansir dari Detik Finance, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa cadangan devisa dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda.

Posisi cadangan devisa nasional pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar US$ 148,2 miliar, menyusut dibandingkan posisi pada akhir Februari 2026 yang mencapai US$ 151,9 miliar.

Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari penerbitan global bond pemerintah, penerimaan pajak dan jasa, hingga pembayaran utang luar negeri serta kebijakan stabilisasi rupiah.

"Memang cadangan devisa ini ada kaitannya dengan intervensi yang kita lakukan. Press conference kemarin, pak Gubernur (BI) menyampaikan intensitas intervensi memang meningkat sehingga mempengaruhi posisi cadangan devisa, sehingga kita melakukan intervensi spot yang berdampak langsung ke cadangan devisa. Kita juga lakukan intervensi NDF dan DNDF, itu juga mengurangi tekanan ke cadangan devisa," kata Juli.

Pernyataan tersebut disampaikan Juli dalam forum FGD Bank Indonesia yang berlangsung di Bandung pada Jumat (24/6/2026).

Selain melakukan intervensi langsung di pasar spot, bank sentral juga menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal masuk atau inflow.

"Selain itu juga upaya terkait dengan SRBI bagaimana inflow supaya mengawal valas dilakukan, tapi di luar itu ada berbagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar seperti melakukan spot dan swap untuk mata uang selain dolar. Jadi, ada spot dan swap JPY dan CNY yang kemarin ada tambahan valas sehingga itu diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap USD," ujar Juli.

Bank Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memperkuat kebijakan moneter lebih lanjut jika dinamika pasar terus berubah secara drastis.

Fokus utama kebijakan ini mencakup dua hal penting, yakni menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan tingkat inflasi nasional tetap berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan.

"Stance apabila kondisinya dinamika berubah, di siaran pers kita sebutkan bahwa BI siap menempuh penguatan kebijakan moneter lebih lanjut apabila diperlukan. Pertama, menjaga stabilitasnya dan kemudian kedua, menjaga inflasi tetap dalam kisaran sasaran," kata Juli.

Artikel terkait

Rekomendasi