Bank Indonesia Intervensi Pasar Guna Stabilisasi Rupiah yang Melemah

Bank Indonesia Intervensi Pasar Guna Stabilisasi Rupiah yang Melemah
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Intervensi Pasar Guna Stabilisasi Rupiah yang Melemah.

Bank Indonesia mengintensifkan langkah penyelamatan mata uang Rupiah di tengah tekanan geopolitik global dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Dilansir dari Investortrust, nilai tukar Rupiah melemah 0,29 persen ke posisi Rp 17.293 per dolar AS pada Rabu pagi akibat krisis energi global.

Stabilitas nilai tukar Rupiah menjadi faktor krusial dalam mengendalikan inflasi domestik serta menjaga kesehatan utang korporasi. Pengamat ekonomi menilai kemampuan bank sentral untuk mempertahankan mata uang tanpa menguras cadangan devisa sebesar 140 miliar dolar AS menjadi ujian utama ketahanan makroekonomi.

Bank Indonesia kini tidak hanya bergerak di pasar spot konvensional untuk mengatasi volatilitas. Bank sentral tersebut juga aktif beroperasi di pasar Non-Deliverable Forward dan Domestic Non-Deliverable Forward guna meredam tekanan spekulatif.

Langkah multipronged ini diterapkan agar bank sentral dapat mengarahkan ekspektasi pasar tanpa memicu penurunan cadangan devisa dalam jumlah besar secara instan.

"BI melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF dan DNDF, serta menyesuaikan ambang batas transaksi valuta asing,"

tulis laporan mingguan Office of Chief Economist Group Bank Rakyat Indonesia.

Faktor Tekanan Eksternal

Tekanan dari luar negeri meningkat setelah blokade di Selat Hormuz memotong jalur pasokan energi global. Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak mentah Brent hingga mencapai 105 dolar AS per barel dan mendorong Indeks Dolar AS melonjak ke level 98,7.

"Kenaikan imbal hasil US Treasury 10-tahun menjadi 4,35 persen mendorong investor kembali ke aset berbasis dolar, yang kemudian menekan pasar negara berkembang,"

kata Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri.

Mempertahankan Suku Bunga

Meskipun kurs Rupiah terus mengalami penurunan, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen. Keputusan tersebut diambil untuk menyerap kelebihan likuiditas melalui operasi pasar terbuka.

Para analis di Jakarta memproyeksikan bahwa Bank Indonesia kemungkinan harus memperketat kebijakan moneter jika Rupiah menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar AS. Saat ini, bank sentral fokus pada bauran kebijakan yang menyeimbangkan stabilitas mata uang dengan target pertumbuhan ekonomi domestik di angka 5 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi