Bank Indonesia menerapkan strategi intervensi penuh selama 24 jam di pusat keuangan global guna menstabilkan nilai tukar Rupiah yang melemah. Kebijakan agresif non-stop ini diumumkan pada hari Kamis dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta.
Langkah ini diambil di tengah tekanan pasar meskipun pertumbuhan ekonomi nasional mencatat angka kuat 5,61 persen dan cadangan devisa mencapai 148,2 miliar dolar AS. Dilansir dari Investortrust, arus modal keluar dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap rebalancing indeks MSCI dan dinamika kebijakan domestik.
"We are intervening in offshore marketsÔÇöNDF (Non-Deliverable Forward) in Hong Kong, Singapore, London, and New York. This is not business as usual; this is 'all out'," tegas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Bank sentral berupaya meredam gejolak eksternal yang menekan likuiditas dolar di pasar domestik melalui intervensi di berbagai bursa utama dunia tersebut. Faktor luar negeri seperti lonjakan harga minyak, ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan imbal hasil US Treasury yang menyentuh 4,41 persen turut memperparah situasi.
"So by those indicators, our economic fundamentals are strong," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Meski indikator makroekonomi menunjukkan performa positif termasuk inflasi yang terjaga di angka 2,42 persen, kekhawatiran investor terhadap pengetatan Hak Guna Usaha dan rencana pajak kekayaan membuat pelaku pasar lebih memilih memegang dolar AS.