Bank of England Peringatkan Risiko Koreksi Tajam Pasar Saham Global

Bank of England Peringatkan Risiko Koreksi Tajam Pasar Saham Global
Foto: Ilustrasi Bank of England Peringatkan Risiko Koreksi Tajam Pasar Saham Global.

Wakil Gubernur Bank of England, Sarah Breeden, mengeluarkan peringatan mengenai potensi koreksi besar pada pasar saham global. Valuasi aset saat ini dianggap terlalu tinggi dan belum mencerminkan tekanan ekonomi dunia yang sebenarnya.

Seperti dikutip dari Money, Breeden menilai bahwa meskipun berbagai risiko terus membayangi, harga aset tetap bertahan di titik tertinggi sepanjang masa. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan adanya penyesuaian pasar yang signifikan di masa mendatang.

"Ada banyak risiko di luar sana, namun harga aset berada pada titik tertinggi sepanjang masa. Kami memperkirakan akan ada penyesuaian pada suatu saat nanti," kata Breeden seperti dilansir BBC pada Jumat, 24 April 2026.

Langkah Breeden yang mengomentari potensi penurunan pasar secara terbuka tergolong tidak biasa bagi pejabat bank sentral. Otoritas moneter umumnya cenderung berhati-hati agar tidak memicu kepanikan investor melalui pernyataan mereka.

Breeden tidak menyebutkan secara spesifik kapan koreksi tersebut akan terjadi atau seberapa besar skalanya. Fokus utamanya adalah pada kemungkinan beberapa risiko muncul secara bersamaan, yang dapat memperparah dampak terhadap sistem keuangan global.

"Hal yang benar-benar membuat saya terjaga di malam hari adalah kemungkinan sejumlah risiko yang terjadi bersamaan ÔÇô guncangan makroekonomi besar, kepercayaan pada kredit swasta menurun, AI dan valuasi berisiko lainnya menyesuaikan diri ÔÇô apa yang terjadi dalam lingkungan itu dan apakah kita siap menghadapinya?" ujarnya.

Penurunan nilai pasar yang tajam dikhawatirkan dapat meluas ke sektor ekonomi riil. Portofolio keuangan rumah tangga yang merosot bisa menyebabkan konsumsi melemah, sementara perusahaan mungkin kesulitan mencari pendanaan untuk investasi.

Kondisi ini juga berisiko menekan kepercayaan bisnis yang berujung pada perlambatan perekrutan tenaga kerja. Peringatan ini muncul saat bursa saham Amerika Serikat masih mencetak rekor, terutama didorong oleh euforia teknologi kecerdasan buatan (AI).

Banyak perusahaan teknologi saat ini menginvestasikan ratusan miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur AI. Fenomena tersebut memicu perdebatan di kalangan tokoh industri mengenai kewajaran harga saham sektor teknologi.

Pendiri Microsoft, Bill Gates, menyebut situasi ini sebagai sebuah "kegilaan". Beberapa analis bahkan mulai membandingkan kondisi saat ini dengan gelembung dotcom yang terjadi pada akhir era 1990-an.

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh CEO Nvidia, Jensen Huang, yang menepis kekhawatiran mengenai adanya gelembung di sektor AI. Di sisi lain, Breeden juga menyoroti pesatnya pertumbuhan sektor kredit swasta.

Risiko dari Sektor Kredit Swasta

Dalam dua dekade terakhir, peran perbankan tradisional dalam penyaluran kredit mulai digantikan oleh penyedia kredit swasta. Breeden mencatat pertumbuhan sektor ini sangat masif namun belum teruji dalam menghadapi krisis besar.

"Kredit swasta telah berkembang dari nol menjadi dua setengah triliun dolar dalam 15 hingga 20 tahun terakhir. Sistem ini belum diuji pada skala sebesar ini dengan tingkat kompleksitas dan keterkaitan yang dimilikinya dengan sistem keuangan lainnya," katanya.

Kekhawatiran bank sentral kini bergeser pada potensi krisis yang bersumber dari sistem kredit swasta tersebut. Beberapa dana kredit swasta dilaporkan mulai membatasi penarikan dana setelah mengalami kerugian.

"Yang kami khawatirkan adalah krisis kredit swasta, bukan krisis kredit yang didorong oleh perbankan," ujar Breeden.

Bank of England menegaskan bahwa prioritas mereka adalah memastikan ketahanan sistem keuangan, bukan sekadar memprediksi arah pergerakan pasar saham harian.

"Yang kami perhatikan adalah: bagaimana harga-harga itu bisa turun? Akankah ada penyesuaian tajam ke bawah? Dan jika ada penyesuaian seperti itu, bagaimana hal itu akan memengaruhi perekonomian? Saya tidak mengatakan itu akan terjadi hari ini, besok, atau dalam 12 bulan ke depan. Yang terpenting adalah memastikan bahwa jika itu terjadi, sistemnya tangguh," ujarnya.

Direktur investasi AJ Bell, Russ Mould, berpendapat bahwa peringatan ini adalah cerminan dari kekhawatiran lama para pelaku pasar. Meski begitu, Mould melihat investor saat ini masih merasa cukup nyaman dalam mengelola risiko-risiko tersebut.

"Itu menunjukkan bahwa investor tidak buta terhadap area masalah potensial, melainkan menyiratkan bahwa mereka nyaman dengan risikonya dan bahwa mereka percaya bahwa setiap masalah dapat diatasi," sebut Mould.

Artikel terkait

Rekomendasi