Bank Dunia melaporkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menyebabkan kekurangan pasokan minyak global terbesar sepanjang sejarah. Guncangan ini secara signifikan mengganggu jalur utama perdagangan energi dunia sejak Februari 2026.
Kekurangan pasokan minyak dunia pada Maret 2026 yang mencapai estimasi 10 juta barel per hari melampaui disrupsi akibat revolusi Iran sebesar 6 juta barel per hari. Skala gangguan ini juga jauh lebih besar dibandingkan dampak perang Irak pada 2003 yang tercatat kurang dari 2 juta barel per hari.
Laporan Commodity Markets Outlook edisi April 2026 dari Bank Dunia, sebagaimana dilansir dari Market pada Rabu (29/4/2026), menegaskan posisi vital Selat Hormuz bagi komoditas global. Jalur ini menjadi perlintasan bagi 35 persen tanker minyak mentah dan 20 persen kapal LNG sebelum terjadinya serangan pada akhir Februari.
"Pengurangan pasokan minyak global pada Maret 2026-diestimasikan 10 juta barel per hari-merupakan guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat," dikutip dari laporan Bank Dunia itu, Rabu (29/4/2026).
Analisis tersebut mencatat lonjakan harga minyak jenis Brent dari US$72 per barel pada Februari menjadi US$118 per barel pada akhir Maret 2026. Meskipun sempat mengalami moderasi ke level US$90 per barel pada pertengahan April seiring isu gencatan senjata, harga tetap bertahan tinggi dibandingkan posisi awal tahun.
Kondisi ini juga memicu persaingan ketat antar pembeli global untuk mengamankan pasokan LNG akibat merosotnya ekspor dari Timur Tengah. Data menunjukkan harga dasar LNG di Asia melonjak 94 persen selama Maret, sementara harga gas alam di Eropa naik hingga 59 persen.
"Meskipun demikian, tingkat keparahan akhir dari guncangan saat ini akan ditentukan oleh dua faktor utama: tingkat kerusakan jangka panjang terhadap kapasitas produksi komoditas di Timur Tengah, dan jangka waktu serta luasnya pemulihan volume pengiriman melalui Selat Hormuz," pungkas Bank Dunia.
Pasar saat ini menunjukkan ekspektasi peningkatan ekspor energi Timur Tengah dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini tercermin dari harga kontrak berjangka minyak jangka pendek yang melampaui harga pengiriman untuk akhir tahun 2026.