Pangsa pasar bank asing dan kantor cabang bank asing di Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan hingga menyentuh angka 23,75 persen dari total aset industri perbankan nasional per Maret 2026. Lonjakan tersebut terjadi akibat maraknya aksi korporasi serta ekspansi bisnis yang dilakukan oleh sejumlah grup perbankan global di tanah air, seperti dilansir dari Keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa keberadaan institusi keuangan internasional ini masih memegang peranan yang sangat vital bagi ekosistem keuangan domestik. Kontribusi terbesar mereka menyasar sektor pembiayaan valuta asing, aktivitas ekspor-impor, dan penyaluran aliran investasi asing langsung.
Selain itu, terdapat rencana integrasi operasional skala besar antara PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan MUFG Bank Ltd yang ditargetkan rampung serta efektif pada 2027 mendatang. Penggabungan dua entitas ini diproyeksikan akan melahirkan kekuatan baru dengan total aset gabungan yang fantastis mencapai Rp 489,15 triliun.
Langkah taktis serupa juga diambil oleh PT Bank OCBC NISP Tbk yang memperluas jaringan bisnisnya dengan mencaplok unit retail banking dan wealth management milik HSBC Indonesia. Setelah proses akuisisi ini selesai sepenuhnya pada kuartal II-2027, dana kelolaan atau asset under management milik OCBC diprediksi melonjak hingga sebesar 25 persen.
"Kami melihat momentum pertumbuhan yang tetap terjaga di awal tahun 2026, baik dari sisi intermediasi maupun penghimpunan dana," ujar Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC Indonesia, pekan lalu.
Kendati ekspansi asing berjalan sangat agresif, tantangan berat dalam penyaluran dana pihak ketiga masih dirasakan oleh pemain besar lain di industri ini karena kondisi ekonomi yang fluktuatif.
"Kami fokus di pendapatan non bunga untuk menggantikan kekurangan dari pendapatan bunga sehingga fee income ratio sudah mencapai di atas 33%," kata Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Di sisi lain, persaingan ketat ini tidak membuat seluruh perbankan mengambil langkah ekstrem, beberapa di antaranya justru memilih untuk tetap bermain aman dengan membatasi ruang gerak demi menjaga stabilitas modal.
Persaingan ke depan dipastikan akan semakin sengit, terutama pada perebutan segmen nasabah korporasi kaya, layanan manajemen kekayaan, serta pembiayaan perdagangan internasional yang selama ini menjadi ceruk pasar basah di Indonesia.