Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menargetkan harga jual Compressed Natural Gas atau CNG akan dipatok kompetitif setara dengan LPG subsidi 3 kilogram pada Rabu (6/6/2026). Langkah ini dilakukan guna mengoptimalkan cadangan gas domestik serta mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Pemerintah berupaya menekan beban devisa negara yang selama ini terkuras untuk pengadaan gas dari luar negeri melalui pengembangan bahan baku lokal. Dilansir dari Suara, konversi energi ini diproyeksikan mampu menciptakan efisiensi anggaran dalam skala besar bagi kas negara.
"Doakan seperti itu ya (tidak lebih mahal). Minimal sama (harganya). Minimal sama," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Indonesia saat ini tercatat melakukan impor sekitar 8,6 juta ton LPG per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik. Tingginya angka impor tersebut mengakibatkan devisa negara tersedot antara Rp 120 triliun hingga Rp 150 triliun setiap tahunnya, yang berisiko meningkat mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.
"Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai 500 triliun. Nah, tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi adalah kita mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Penggunaan gas alam terkompresi sebenarnya sudah mulai diterapkan pada sektor transportasi serta pelaku industri seperti hotel dan restoran. Saat ini, pemerintah tengah melaksanakan tahap uji coba pengemasan CNG ke dalam tabung 3 kilogram agar dapat segera didistribusikan kepada masyarakat luas sebagai substitusi LPG.
"Nah, kapan ini selesai? Nanti tunggu uji coba daripada tabung 3 kilogramnya. Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilo, yang 20 kilo itu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.