Bahlil Bahas Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Subsidi BBM

Bahlil Bahas Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Subsidi BBM
Foto: Ilustrasi Bahlil Bahas Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Subsidi BBM.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggelar rapat darurat bersama sejumlah menteri pada Rabu (13/5/2026) di Jakarta guna memitigasi risiko pembengkakan subsidi BBM akibat anjloknya nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak dunia.

Langkah antisipasi ini diambil setelah mata uang rupiah menyentuh rekor terendah di level Rp17.540 per dolar AS pada Selasa (12/5). Dilansir dari Suara, pelemahan kurs tersebut dibarengi dengan harga minyak mentah jenis Brent yang menembus USD 106,95 per barel.

Kondisi pasar energi global saat ini berbanding terbalik dengan target fiskal pemerintah. Dalam asumsi makro APBN 2026, pemerintah hanya mematok harga minyak di level USD 70 per barel, sehingga selisih harga yang lebar mengancam ketahanan anggaran negara.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, memberikan konfirmasi mengenai pelaksanaan pertemuan tingkat tinggi tersebut untuk mencari solusi atas tekanan ekonomi yang terjadi.

"Ini kebetulan Pak Menteri sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya, jadi kita tunggu saja," ujar Laode Sulaeman, Dirjen Migas.

Pemerintah saat ini terus memantau pergerakan pasar secara intensif sebelum mengambil keputusan terkait kebijakan harga energi di dalam negeri. Penegasan mengenai status harga bahan bakar saat ini juga disampaikan oleh pihak kementerian.

"Itu masih kan belum ada info-info lain lagi kan, selain yang ada sekarang (harga BBM tidak naik), jadi kita lihat perkembangan berikutnya saja nanti," ujar Laode Sulaeman, Dirjen Migas.

Selain harga Brent, minyak mentah jenis WTI juga terpantau berada di posisi USD 101,52 per barel pada Rabu pagi. Pemerintah masih mempertahankan kebijakan harga BBM saat ini sembari menunggu hasil koordinasi lintas kementerian terkait fluktuasi kurs dan komoditas global.

Artikel terkait

Rekomendasi