Astindo Siapkan Paket Wisata Adaptif untuk Jaga Daya Beli

Astindo Siapkan Paket Wisata Adaptif untuk Jaga Daya Beli
Foto: Ilustrasi Astindo Siapkan Paket Wisata Adaptif untuk Jaga Daya Beli.

Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) merancang paket wisata adaptif berdurasi pendek dengan anggaran ramah kantong guna menangkap peluang pariwisata nasional di tengah tekanan ekonomi global yang dilaporkan pada Selasa (19/5/2026).

Strategi penyesuaian ini dipersiapkan agar masyarakat kelas menengah ke bawah memiliki alternatif untuk tetap bisa menikmati liburan secara hemat, seperti dilansir dari Detik Travel.

"Paket wisata yang lebih adaptif, menyesuaikan dengan kondisi yang sekarang yang mungkin lebih pendek, lebih ke regional kemudian juga dengan budget (anggaran)-nya juga lebih terjangkau," kata Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Pauline Suharno.

Penyusunan program perjalanan liburan baru ini mengedepankan efisiensi biaya signfikan melalui pemanfaatan opsi transportasi darat seperti sleeper bus. Fleksibilitas tinggi juga diterapkan pada sistem paket, termasuk mengubah aturan makan bersama kelompok yang biasa diterapkan agen perjalanan zaman dulu guna memangkas pengeluaran konsumen.

"Dan ini sejalan dengan prinsip sustainability (keberlanjutan) di mana kita bisa berdampak untuk masyarakat lokal ketika kita membuat paket wisata atau menyelenggarakan paket perjalanan," ucap Pauline.

Realisasi konsep perjalanan darat berdurasi pendek tersebut salah satunya berupa rute overland menggunakan kereta api dari Yogyakarta dengan titik akhir di Solo atau Banyuwangi, seperti yang terlihat pada situasi Stasiun Yogyakarta yang mulai dipadati pemudik menjelang Idul Fitri pada Sabtu (14/3/2026).

"Jadi overland, naik kereta api. Ini yang sudah kami lakukan sehingga berharap nantinya masyarakat ketika long weekend (libur panjang) tuh enggak diam-diam aja, tapi tetap melakukan perjalanan aglomerasi," jelas Pauline.

Menurut Pauline, penyebarluasan edukasi dan peningkatan komunikasi mengenai opsi wisata hemat ini wajib dilakukan secara masif kepada masyarakat luas. Langkah strategis tersebut juga memerlukan sinergi yang kuat antara kementerian dan lembaga pemerintah terkait agar dampak ekonominya berjalan optimal.

"Koordinasi antar K/L (kementerian/lembaga) itu penting supaya tidak merugikan pariwisata. Karena pariwisata ini kan multiplier effect-nya banyak dan perlu koordinasi antar-lembaga, dengan imigrasi perlu, dengan keuangan, SDM (sumber daya manusia) juga perlu," tutur Pauline.

Artikel terkait

Rekomendasi