Kawasan ASEAN Dinilai Semakin Relevan dalam Tatanan Ekonomi Multipolar

Kawasan ASEAN Dinilai Semakin Relevan dalam Tatanan Ekonomi Multipolar
Foto: Ilustrasi Kawasan ASEAN Dinilai Semakin Relevan dalam Tatanan Ekonomi Multipolar.

Integrasi kawasan Asia Tenggara dinilai semakin relevan dalam mempertahankan stabilitas di tengah pergeseran tatanan ekonomi global multipolar saat ini. Kondisi tersebut tercipta berkat konsistensi dan kekompakan negara anggota yang dibangun selama puluhan tahun, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

ÔÇ£Sekarang ASEAN jauh lebih relevan dari sebelumnya,ÔÇØ ujar Mantan Duta Besar Indonesia untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Iman Pambagyo dalam diskusi JakartaGlobe Insight di Hotel Mulia Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Kawasan Asia Tenggara sempat dikenal tidak stabil pada era sebelum 1970-an. Namun, melalui penguatan kerja sama regional yang solid, negara-negara anggota berhasil mewujudkan fondasi ekonomi yang jauh lebih kuat serta relatif stabil.

ÔÇ£Kalau selama ini Indonesia dan negara-negara ASEAN bisa membangun ekonomi relatif lebih stabil, itu karena kesatuan dan kekompakan ASEAN,ÔÇØ kata Iman Pambagyo.

Tantangan regional kini kian meningkat akibat adanya tekanan geopolitik global, perang dagang, hingga kompetisi ekonomi yang ketat antarnegara. Situasi ini memicu kecenderungan setiap pemerintah untuk lebih memprioritaskan penyelamatan kepentingan ekonomi domestik masing-masing.

ÔÇ£Wajar, karena tugas masing-masing pemerintah adalah membangun ekonominya demi rakyatnya sendiri,ÔÇØ ujarnya.

Pendekatan kebijakan yang berfokus pada keuntungan domestik tersebut dikenal sebagai fenomena cafeteria approach. Kendati demikian, integritas kawasan tetap perlu dijaga karena hubungan ekonomi antarnegara anggota ASEAN bersifat saling melengkapi, bukan saling bergantung.

ÔÇ£Yang dibangun selama lebih dari 20 tahun adalah keterkaitan ekonomi satu sama lain,ÔÇØ katanya.

Indonesia sebagai pemilik kekuatan ekonomi dan pasar terbesar di Asia Tenggara diharapkan mampu mengoptimalkan integrasi ini dengan baik. Sikap merasa sekadar menjadi pasar akibat besarnya arus barang masuk dinilai muncul karena kurangnya pemanfaatan peluang secara tepat.

ÔÇ£Kita jadi ekonomi terbesar kok merasa hanya menjadi pasar. Jangan-jangan kita sendiri yang selama ini tidak memanfaatkan dengan benar,ÔÇØ ujarnya.

Implementasi nyata dari setiap negara tetap menjadi penentu utama dalam meraih keuntungan dari berbagai komitmen kerja sama internasional. Penandatanganan perjanjian perdagangan saja tidak akan memberikan dampak positif secara otomatis tanpa adanya langkah konkret lanjutan.

ÔÇ£Benefit itu tidak datang sendirinya. Setelah perjanjian ditandatangani, kita tetap harus kerja,ÔÇØ kata Iman Pambagyo.

Artikel terkait

Rekomendasi