Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan adanya kemajuan terbatas dalam situasi terkait Iran dan ketegangan di Selat Hormuz menjelang pertemuan tingkat menteri luar negeri anggota NATO bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Jumat (22/5/2026), dilansir dari Media Indonesia.
"Ada sedikit kemajuan. Saya tidak ingin melebih-lebihkan, tetapi ada sedikit pergerakan dan itu hal yang baik," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat saat ini masih memantau hasil pembahasan yang sedang berlangsung mengenai program nuklir Teheran dengan fokus utama pada penyelesaian masalah pengayaan uranium dan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran.
Washington menegaskan bahwa posisi dasar mereka tidak berubah, di mana Iran dilarang keras memiliki senjata nuklir, masalah cadangan uranium pengayaan tinggi harus segera diselesaikan, dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz menjadi harga mati.
Selain isu nuklir, Amerika Serikat melontarkan tuduhan serius terhadap Teheran yang disebut berupaya menciptakan sistem pungutan di jalur pelayaran vital Selat Hormuz serta mencoba mengajak Oman untuk bergabung dalam inisiatif tersebut.
"Tidak ada negara di dunia yang seharusnya menerima hal itu," tegas Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Pihak Amerika Serikat memperingatkan bahwa jika praktik semacam itu dibiarkan terjadi di Selat Hormuz, maka pola serupa dapat mereplikasi diri di wilayah strategis lainnya di seluruh dunia.
Saat ini, Washington tengah menggalang dukungan internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait resolusi yang disponsori oleh Bahrain mengenai isu navigasi tersebut, meski Amerika Serikat tetap skeptis terhadap dinamika di Dewan Keamanan PBB.
"Mari kita lihat apakah PBB masih berfungsi," sindir Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Sindiran tersebut merujuk pada adanya anggota Dewan Keamanan PBB yang sedang mempertimbangkan untuk menggunakan hak veto terhadap resolusi navigasi yang diajukan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan bahwa pertemuan para menteri luar negeri ini akan memprioritaskan pembahasan mengenai belanja pertahanan, situasi di Ukraina, serta kebebasan navigasi yang kini terancam oleh aktivitas Iran.
"Ikan mendengar dari banyak kolega bahwa tidak dapat diterima jika kebebasan navigasi diinjak-injak seperti yang terjadi saat ini," pungkas Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO.