AS Selidiki Dugaan Jaringan Kripto Rahasia Iran di Binance

AS Selidiki Dugaan Jaringan Kripto Rahasia Iran di Binance
Foto: Ilustrasi AS Selidiki Dugaan Jaringan Kripto Rahasia Iran di Binance.

Jaringan pembayaran rahasia yang diduga mendanai kekuatan militer Iran ditemukan dalam laporan internal bursa kripto terbesar di dunia, Binance. Seorang pemodal utama rezim Teheran disinyalir membangun infrastruktur keuangan digital ini untuk menjaga aliran dana ke Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), seperti dilansir dari Media Indonesia.

Pengusaha Iran yang menjuluki dirinya sebagai operator antisanksi, Babak Zanjani, mengendalikan langsung jaringan tersebut. Berdasarkan data kepatuhan internal Binance, transaksi senilai US$850 juta atau sekitar Rp13,5 triliun mengalir melalui satu akun perdagangan utama selama dua tahun terakhir.

Penyelidik internal menemukan bahwa Babak Zanjani bergerak bersama sekutunya, termasuk saudara perempuan, pasangan romantis, dan direktur perusahaannya. Mereka mengoperasikan beberapa akun tambahan yang diakses dari perangkat yang sama sebagai upaya menghindari sanksi AS.

Meskipun memicu berbagai peringatan internal, akun utama tersebut dilaporkan tetap beroperasi selama setidaknya 15 bulan dan masih aktif hingga Januari lalu. Aliran dana kripto ini diduga kuat menyokong jaringan pendanaan IRGC yang mengalir ke kelompok-kelompok seperti Hamas, Hizbullah, dan militan Houthi di Yaman.

Data internal menunjukkan total transaksi jaringan Babak Zanjani mencapai US$850 juta sepanjang 2024-2025. Selain itu, terdapat dana kripto dari Bank Sentral Iran sebesar US$107 juta yang masuk ke Binance tahun lalu, serta transaksi langsung senilai US$260 juta antara akun Binance dan dompet digital penyokong.

Juru bicara Binance menyatakan bahwa informasi mengenai temuan tersebut tidak akurat. Pihak bursa mengeklaim tidak mengizinkan transaksi dengan individu atau dompet digital yang masuk dalam daftar sanksi.

"Binance memiliki toleransi nol terhadap aktivitas terlarang dan sejak 2024 telah membangun program kepatuhan kelas dunia," ujar juru bicara tersebut.

Departemen Kehakiman AS kini tengah gencar menyelidiki penggunaan Binance oleh Iran untuk menghindari sanksi internasional. Kasus ini mencuat setelah Binance mengaku bersalah atas pelanggaran antipencucian uang pada tahun 2023 dan membayar denda rekor sebesar US$4,3 miar.

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, yang sempat menjalani hukuman penjara selama empat bulan, baru-baru ini menerima pengampunan dari Presiden Trump pada Oktober lalu. Di sisi lain, aliran dana melalui Binance ke entitas yang terhubung dengan IRGC sebagian besar berkaitan dengan pembayaran dari pembeli minyak Iran di Tiongkok.

Perdagangan minyak ini menjadi sumber pendapatan signifikan bagi rezim Teheran yang dikendalikan langsung oleh IRGC untuk mengakali blokade keuangan global. Departemen Keuangan AS melalui operasi Economic Fury memperingatkan lembaga keuangan global akan konsekuensi berat jika memfasilitasi transfer uang atas nama Iran.

Hingga saat ini, otoritas AS dilaporkan telah membekukan aset kripto milik Iran senilai US$344 juta dalam upaya memutus jalur logistik keuangan negara tersebut. Sementara itu, Administrasi Trump juga menawarkan hadiah hingga US$15 juta bagi siapa pun yang memiliki informasi terkait mekanisme keuangan IRGC Iran guna memperketat sanksi ekonomi.

Artikel terkait

Rekomendasi