Dua asisten rumah tangga (ART) berinisial D (18) dan R (30) nekat melompat dari lantai empat sebuah rumah kos di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Peristiwa yang dilansir dari Megapolitan ini mengakibatkan D meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke RS Mintohardjo.
Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra menjelaskan bahwa saksi di lokasi langsung memberikan bantuan setelah kejadian tersebut. Polisi menduga kedua korban mencoba melarikan diri karena tidak betah dengan sikap pemberi kerja.
"Kejadiannya tadi malam (Rabu, 22 April 2026). Setelah kedua ART loncat, ada warga yang melihat kejadian. Langsung ditolong warga," ujar Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa informasi awal merujuk pada keinginan kedua korban untuk keluar dari tempat kerja mereka. Keterangan dari saksi lain menyebutkan adanya tekanan psikologis dari pemilik rumah kos.
"Betul. Informasi awalnya begitu," kata Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Hingga saat ini, proses pemeriksaan masih terus berjalan untuk mendalami perlakuan majikan terhadap para pekerjanya. Polisi belum bisa memastikan adanya kekerasan fisik secara detail.
"(Saksi) Enggak ngomong suka disiksa, tapi (majikan) galak. Nah itu kan (galak) bisa saja dengan omongan, bisa saja dengan tindakan," tutur Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Penyelidikan saat ini difokuskan pada motif utama di balik aksi nekat kedua perempuan tersebut. Tim penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti pendukung di lapangan.
"Kita juga belum tahu karena belum selesai pemeriksaan," tutur Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Saksi mata bernama Thamrin (35) menceritakan bahwa dirinya sempat mendengar dentuman keras berulang kali sebelum menemukan kedua korban. Awalnya, ia mengira suara tersebut berasal dari aktivitas pembuangan sampah.
"Pas itu ada suara benda jatuh keras. Lalu ada suara lagi. Terdengar jatuh dari atas. Kita pikir itu suara orang buang sampah," katanya Thamrin, Warga.
Thamrin sempat merasa terganggu dengan kebisingan tersebut di malam hari sebelum akhirnya memeriksa lokasi. Ia menyisir area yang gelap menggunakan bantuan cahaya dari telepon seluler.
"Sempat kesal kok malam-malam buang sampah sih, kedengaran dibuang dari atas gitu. Kan kayak ngapain gitu kan," lanjut Thamrin, Warga.
Setelah mendekati titik suara, ia mendapati dua perempuan dalam kondisi tergeletak dan beberapa tas pribadi yang tercecer. Salah satu korban ditemukan dalam posisi tertelungkup tanpa reaksi.
"Saat itu terlihat dua orang perempuan tergeletak di tanah. Dan ada beberapa tas sudah di tanah. Satu perempuan tergeletak dalam posisi tengkurap. Satunya lagi telentang merintih kesakitan," lanjut Thamrin, Warga.
Kondisi fisik korban R terlihat cukup parah dengan luka pada bagian tangan. Thamrin segera berkoordinasi dengan pengurus lingkungan dan memanggil bantuan medis.
"I lihat yang merintih itu pergelangan tangannya luka," ungkap Thamrin, Warga.
Rekan saksi segera menghubungi ambulans untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat. Petugas medis tiba tidak lama setelah laporan warga diterima.
"Teman saya panggil ambulans karena melihat dua orang perempuan itu sudah mengkhawatirkan kondisinya," katanya Thamrin, Warga.
Warga lain bernama Tejo (28) mengungkapkan bahwa korban R sempat mengadu mengenai penyitaan alat komunikasi oleh majikannya. Hal ini terungkap saat warga mencoba mencari kontak keluarga korban.
"Ada yang bertanya, 'Mbak HP-nya mana? Biar diamankan, takut hilang'. Ternyata katanya HP-nya dia bilang disita," ujar Tejo, Warga.
Penyitaan tersebut diduga dilakukan atas perintah langsung dari pemilik rumah kos. R memberikan keterangan singkat meski sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Ditanya lagi, siapa yang sita? Mbak R menjawab katanya disita sama istri bos, yang suruh sita bosnya," lanjut Tejo, Warga.
Tejo juga memastikan bahwa aksi jatuh tersebut dilakukan secara sengaja oleh kedua korban. R mengonfirmasi hal itu melalui jawaban singkat atas pertanyaan warga.
"Lalu aku tanya, 'berarti lompat?' Dia bilang, 'iya lompat'," ungkap Tejo, Warga.
Warga mencoba menggali informasi mengenai alasan mereka melompat, namun korban memilih untuk tidak banyak bicara. Identitas korban akhirnya ditemukan di dalam tas yang mereka bawa.
"Aku tanya lagi, 'kenapa lompat ?' Dia diam saja. Lalu kutanya lagi, 'Bosnya galak?' R tetap diam saja," ungkap Tejo, Warga.
Setelah kejadian, Tejo menerima informasi dari tetangga mengenai status kesehatan salah satu korban. Kabar duka tersebut diterima pada dini hari setelah proses evakuasi selesai.
"Saya dapat kabar dari ibu-ibu tetangga yang tukaran kontak usai kejadian. Dia telepon malam-malam jam 01.13 WIB, kasih kabar kalau yang D meninggal di rumah sakit," jelas Tejo, Warga.
Kondisi akses menuju lantai 4 rumah kos tersebut diketahui dipasangi pengaman besi yang sangat ketat. Tejo menyebutkan bahwa pintu tangga dikunci dengan beberapa gembok sekaligus.
"Semua orang bisa akses. Nah, tangga menuju lantai 4 itu digembok, dikerangkeng gitu," ujar Tejo, Warga.
Banyaknya kunci yang terpasang membuat warga dan polisi kesulitan untuk mencapai area tempat tinggal majikan. Upaya membuka paksa sempat direncanakan namun batal dilakukan.
"Gemboknya ada empat. Atas satu, tengah dua, sama bawah satu," ungkap Tejo, Warga.
Penjaga rumah kos bernama Edi menyatakan bahwa kedua ART tersebut tergolong pekerja baru di bangunan tersebut. Ia hanya mengenal korban melalui teguran sapa harian saja.
"Keduanya masih baru semua. Yang dirawat di RS itu saya sering say hello. Dia baru tiga atau empat bulan bekerja di sini. Kalau yang satunya baru lima hari (bekerja)," tuturnya Edi, Penjaga Rumah Kos.
Saat kejadian, Edi sedang beristirahat di pos keamanan sebelum dibangunkan oleh warga. Ia sempat menanyakan keberadaan bos kepada R yang masih sadar di lokasi jatuh.
"Saya lihat satunya diam, yang satu lagi merintih sakit. Saya sempat tanya kepada yang mengeluhkan sakit. Saya tanyakan apakah bos ada di lantai 4, dia jawab ada sedang tidur," katanya Edi, Penjaga Rumah Kos.
Bangunan tersebut terdiri dari empat lantai dengan pembagian fungsi yang berbeda antara area kos dan kediaman pribadi. Edi menjelaskan bahwa area komersial mencakup lantai satu hingga tiga.
"Ini kosannya kos campur," tutur Edi, Penjaga Rumah Kos.
Lantai paling atas merupakan kediaman pemilik kos, meski mereka tidak selalu menginap di sana setiap hari. Pemilik sering berpindah-pindah ke aset rumah miliknya yang lain.
"Karena kan punya rumah banyak, kadang di sini, kadang di rumah lainnya. Tapi kalau pas di sini sekeluarga dengan istri dan anaknya," jelas Edi, Penjaga Rumah Kos.
Penanganan kasus ini secara resmi telah berpindah tangan dari tingkat polres ke kepolisian daerah. Keputusan ini diambil berdasarkan arahan langsung dari otoritas yang lebih tinggi.
"Untuk perkara penemuan mayatnya sudah limpah ke Polda," ujar Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Seluruh proses pemeriksaan lebih lanjut mengenai penyebab kematian dan motif melompat kini berada di bawah kendali Polda Metro Jaya. Kepolisian terus mendalami keterangan saksi-saksi tambahan.
"Iya dilimpahkan ke Polda untuk motif lompat dan meninggalnya," lanjut Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Pelimpahan berkas pemeriksaan dilakukan guna mempercepat proses penyelidikan kasus yang menarik perhatian publik ini. Polisi mengonfirmasi bahwa penarikan kasus tersebut merupakan kewenangan Polda.
"Penarikan pemeriksaan dari Polda," tuturnya Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Sebelum pelimpahan kasus, penyidik Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat sebenarnya telah mulai memanggil pemilik kos untuk dimintai keterangan. Namun, proses tersebut belum mencapai tahap final.
"Dimintai keterangannya, tapi belum selesai," katanya Roby Heri Saputra, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.