PT Arsari Tambang merencanakan pembangunan pusat riset timah dan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) di Bangka sebagai langkah strategis memperkuat teknologi pengolahan mineral di Indonesia. Rencana tersebut diungkapkan oleh manajemen perusahaan dalam acara Metconnex 2026 di Jakarta pada Rabu (13/5/2026).
Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi ketertinggalan penguasaan teknologi mineral strategis di dalam negeri, dilansir dari Ekonomi. Meskipun industri timah nasional telah beroperasi lebih dari satu abad, kapasitas riset domestik dinilai masih minim.
"Bayangkan, industri timah Indonesia sudah ada selama 150 tahun dan kita tidak punya pusat riset timah," katanya dalam acara Metconnex 2026 di Jakarta, dikutip Rabu (13/5/2026).
Aryo menyatakan bahwa fasilitas penelitian tersebut diproyeksikan menjadi pusat pengembangan teknologi pengolahan logam tanah jarang yang merupakan produk sampingan timah. Unsur-unsur seperti neodymium-praseodymium (NdPr) dan dysprosium memiliki nilai strategis tinggi untuk kebutuhan transisi energi dan industri teknologi global.
Pusat riset ini juga difokuskan pada pengembangan teknologi hilir, termasuk formulasi standar tinggi untuk industri semikonduktor. Penegasan mengenai kedaulatan riset domestik menjadi poin utama dalam visi perusahaan agar nilai tambah industri tetap berada di dalam negeri.
"Kita perlu menguasainya, dan ini harus dimiliki oleh Indonesia, diteliti di Indonesia, dan dibuat di Indonesia," katanya.
Pengembangan ekosistem penelitian ini akan melibatkan kerja sama lintas sektor, mulai dari akademisi hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah kolaborasi tersebut dipandang krusial untuk mempercepat penciptaan nilai tambah melalui industrialisasi, bukan sekadar ekstraksi bahan mentah.
Sebagai bagian dari peta jalan hilirisasi, kelompok usaha milik Hashim Djojohadikusumo ini sebelumnya telah mengoperasikan pabrik timah solder di Batam melalui PT Solder Tin Andalan Indonesia. Ke depan, perusahaan menargetkan ekspansi produksi pada produk solder paste dan tin chemical guna mendukung industri semikonduktor global.