Kenaikan permukaan air laut yang berkelanjutan mengancam keberadaan Venesia di Italia sebagai destinasi wisata dunia akibat risiko tenggelam yang dipicu oleh perubahan iklim dan beban pariwisata berlebihan pada Selasa (28/4/2026). Dilansir dari Detik Travel, kondisi tersebut memaksa para ilmuwan memproyeksikan skenario adaptasi ekstrem bagi kota yang dipenuhi kanal-kanal bersejarah tersebut.
Hasil studi dari Universitas Salento yang dirilis pada Kamis, 16 April menunjukkan perlunya langkah adaptasi jangka panjang yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Langkah ini bertujuan menyeimbangkan aspek kesejahteraan sosial, biaya pemeliharaan finansial, dan upaya pelestarian warisan budaya di tengah ancaman lingkungan.
Para peneliti memberikan saran agar otoritas setempat mempertimbangkan penggunaan penghalang banjir berskala besar untuk mengisolasi kota dari laguna. Opsi lainnya adalah mengelilingi kawasan laguna dengan bendungan pantai permanen guna menahan laju air. Jika skenario terburuk terjadi dan kota terendam sepenuhnya, objek wisata bersejarah harus dibongkar dan dipasang kembali di lokasi baru.
Meskipun pemindahan monumen diprediksi bisa menyelamatkan warisan fisik, penelitian tersebut memperingatkan hilangnya budaya berbasis laguna dan gaya hidup tradisional secara permanen. Proyek penyelamatan ini diperkirakan membutuhkan biaya hingga Euro 100 miliar, sementara kerugian properti pribadi akibat pengungsian penduduk mencapai Euro 6,5 miliar.
Piero Lionello, pemimpin penelitian di Universitas Salento, memberikan peringatan mengenai batas waktu efektivitas upaya pencegahan saat ini. Ia memprediksi bahwa pada tahun 2100, rata-rata permukaan laut di Venesia dapat mengalami kenaikan antara 42 cm hingga 81 cm.
"Ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menunda skenario ini, tetapi hal itu tidak akan berhasil selamanya, masa depan tampaknya tak terhindarkan," kata Piero Lionello, yang memimpin penelitian di Universitas Salento.
Venesia sebenarnya telah mengoperasikan Mose sejak tahun 2020, sebuah sistem penghalang banjir di muara laguna untuk melindungi pulau-pulau dari pasang tinggi. Namun, para peneliti menegaskan bahwa tindakan cepat tetap krusial mengingat saat ini permukaan air laut rata-rata sudah berada pada angka 80 cm hingga 120 cm.
Kenaikan ekstrem permukaan laut diperkirakan tidak terhindarkan pada abad ke-22 jika kebijakan iklim saat ini tidak berubah dan lapisan es Antartika terus runtuh. Dalam kondisi tersebut, wisatawan yang ingin melihat reruntuhan bersejarah yang terendam kemungkinan hanya bisa menggunakan kapal selam atau perahu dalam durasi waktu yang sangat terbatas.