Pemilihan pakaian saat melakukan perjalanan udara sering kali mengutamakan faktor kenyamanan, sehingga banyak penumpang memilih mengenakan legging agar lebih fleksibel saat bergerak. Namun, dilansir dari Detik Travel, terdapat risiko keselamatan serius yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan menggunakan pakaian ketat berbahan sintetis tersebut di dalam kabin pesawat.
Bahaya mengenakan legging muncul ketika terjadi situasi darurat yang melibatkan api atau suhu panas tinggi. Christine Negroni, seorang penulis buku tentang bencana udara, menjelaskan bahwa legging dapat berdampak fatal jika pesawat mengalami kecelakaan atau terjadi kebakaran di dalam kabin.
Saat penumpang harus segera mengevakuasi diri, material legging yang mayoritas terbuat dari serat buatan menjadi sangat berisiko. Bahan tersebut memiliki sifat mudah terbakar dan cenderung menempel langsung pada kulit saat terkena panas, yang dapat memperparah luka bakar pada tubuh penumpang.
"Anda mungkin harus melarikan diri melalui kebakaran kabin atau mungkin ada kebakaran terpisah di darat begitu Anda meninggalkan pesawat. Semua orang mengenakan celana yoga di pesawat sekarang, tetapi saya menghindari semua serat buatan karena mereka lebih mungkin terbakar dan menempel pada Anda jika ada kebakaran," kata Christine kepada The Sun.Sebagai alternatif yang lebih aman, Christine menyarankan pelancong untuk menggunakan pakaian yang terbuat dari katun atau serat alami lainnya. Selain masalah celana, ia juga memberikan peringatan mengenai kebiasaan penumpang yang sering melepas alas kaki selama penerbangan berlangsung.
"Jika Anda keluar dari pesawat, lantainya bisa sangat panas atau dingin, mungkin tertutup minyak atau terbakar, atau di ladang jagung - Anda tidak akan mau bertelanjang kaki. Pilih sepatu kets dibandingkan dengan hak tinggi," kata Christine.Pakaian Lain yang Perlu Dihindari Penumpang
Selain legging, terdapat beberapa jenis pakaian lain yang sebaiknya tidak dikenakan demi kenyamanan dan kesehatan selama berada di ketinggian. Salah satu yang paling sering disorot oleh para pakar perjalanan adalah penggunaan celana jin ketat atau skinny jeans.
Molly Fergus selaku Manajer Umum Trip Savvy menyebutkan bahwa skinny jeans dapat membatasi pergerakan dan memicu rasa tidak nyaman. Hal ini berkaitan dengan perubahan tekanan udara di kabin yang menyebabkan gas di dalam usus manusia mengembang hingga sekitar 30 persen saat mencapai ketinggian tertentu.
"Kembung adalah masalah utama, bahkan untuk pramugari. Jadi kenakan sesuatu yang nyaman di pinggang Anda, seperti elastis," kata Pramugari American Airlines, Andrea Fischbach.Pakar kesehatan juga memperingatkan bahwa penggunaan celana yang terlalu ketat dalam waktu lama di pesawat dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah pada kaki. Kondisi medis ini dikenal sebagai Deep Vein Thrombosis (DVT), yang sering dipicu oleh sirkulasi darah yang tidak lancar.
Terakhir, penggunaan celana pendek juga tidak disarankan oleh para awak kabin karena alasan higienitas. Mengutip informasi dari seorang pramugara bernama Tommy Cimato, kursi pesawat tidak selalu terjamin kebersihannya dari kuman atau bakteri.
Penggunaan celana panjang yang menutupi seluruh permukaan kulit kaki dianggap lebih aman untuk mencegah kontak langsung dengan alas duduk. Langkah ini efektif dalam meminimalisir risiko infeksi kulit atau gangguan kesehatan lain yang mungkin timbul akibat standar kebersihan kursi yang tidak menentu.