Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa tekanan eksternal berupa tingginya harga minyak dunia saat ini tengah menekan berbagai mata uang asing termasuk nilai tukar rupiah.
Kondisi penurunan nilai mata uang tersebut dinilai tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga terjadi pada sejumlah mata uang dari negara-negara lain, dilansir dari Nasional.
"Nanti kita monitor saja dulu, karena memang berbagai currency juga lemah akibat dari pada harga minyak masih terlalu tinggi," ujar Airlangga kepada awak media di Kemenko Perekonomian, Senin (18/5).
Berdasarkan data perdagangan pada Senin (18/5/2026), mata uang Garuda ditutup melemah sekitar 0,4 persen ke level Rp 17.668 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.597 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026).
Penurunan ini mencatatkan posisi rupiah terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar AS, di mana kurs sempat menyentuh titik terendah intraday pada level Rp 17.683 per dolar AS sekitar pukul 12.17 WIB.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia hingga pukul 15.00 WIB menunjukkan variasi, dengan ringgit Malaysia mengalami depresiasi terdalam sebesar 0,49 persen terhadap dolar AS.
Pelemahan ini juga diikuti oleh rupee India sebesar 0,33 persen, yen Jepang 0,11 persen, dolar Taiwan 0,03 persen, serta peso Filipina yang turun tipis sebesar 0,02 persen.
Di sisi lain, yuan China mencatat apresiasi tertinggi di kawasan Asia dengan kenaikan sebesar 0,15 persen, yang kemudian disusul oleh menguatnya baht Thailand sebesar 0,09 persen terhadap dolar AS.