Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dipicu oleh penilaian lembaga rating Morgan Stanley Capital International dan bukan karena pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia pada perdagangan Jumat (22/5/2026) di Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk membantah rumor sentimen negatif dari pelaku pasar modal terkait kehadiran badan ekspor baru bentukan pemerintah. Dilansir dari Suara, indeks saham domestik justru berhasil membalikkan arah ke zona hijau pada penutupan perdagangan akhir pekan setelah sempat tertekan signifikan.
"Lihat IHSG hari ini hijau. Sebenarnya IHSG itu kan kemarin ada indeks daripada emiten yang keluar dari lembaga rating," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Fluktuasi yang terjadi di lantai bursa dinilai sebagai bagian dari dinamika pasar yang lumrah terjadi. Pergerakan saham yang sempat merosot tajam selama empat hari berturut-turut langsung mengalami rebound pada sesi penutupan perdagangan.
"Tentu koreksi itu suatu hal yang wajar, ada koreksi di market," lanjut Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Data perdagangan menunjukkan IHSG menguat sebesar 1,10 persen ke posisi 6.162 setelah sebelumnya sempat terpuruk hingga menyentuh level terendah di 5.966. Di samping itu, respon positif justru datang dari kalangan dunia usaha terhadap pendirian badan ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau PT DSI.
"Hampir dari seluruh asosiasi baik dalam maupun luar negeri mereka mengapresiasi kebijakan yang diambil oleh Pemerintah, dan mereka siap untuk bekerja sama dengan badan yang dibentuk oleh Pemerintah," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Dukungan para pengusaha mengemuka dalam forum sosialisasi yang berlangsung pada Kamis (21/5/2026) sore. Agenda strategis ini turut dihadiri Menteri Perdagangan Budi Santoso, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, serta Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.
Pemerintah menugaskan PT DSI untuk memegang kendali atas manajemen ekspor tiga komoditas strategis nasional nasional, yakni batu bara, kelapa sawit, serta ferro alloy. Langkah ini diambil demi memperketat tata kelola devisa negara.
"Tujuannya untuk perkuatan kontrol dan pengawasan atas ekspor dan devisa hasil ekspor atas komoditas SDA strategis. Sehingga akan membangun validitas dan integrasi data perdagangan, dan mengurangi atau menghilangkan trade misinvoicing," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.
Mekanisme ekspor komoditas melalui PT DSI dirancang berjalan dalam dua fase transisi. Pada tahap awal yang berlaku selama tiga bulan hingga 31 Desember 2026, korporasi swasta masih diizinkan mengekspor secara mandiri dengan kewajiban menyerahkan seluruh dokumen kepada PT DSI, sebelum akhirnya dialihkan sepenuhnya secara terpusat mulai 1 Januari 2027.