Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.300 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026). Gejolak ini dinilai sebagai dampak dari ketidakpastian kondisi ekonomi global yang juga menekan berbagai mata uang di kawasan regional.
Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Detik Finance, nilai tukar dolar AS menguat 0,70 persen ke level Rp 17.302 pada pukul 10.15 WIB. Sebelumnya, mata uang Amerika Serikat tersebut sempat menyentuh angka Rp 17.310 pada pukul 09.35 WIB, meningkat signifikan dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (22/4) yang berada di posisi Rp 17.180.
Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar yang terjadi saat ini di Jakarta Selatan.
"Ya kita monitor aja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak," ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Pemerintah mengidentifikasi faktor eksternal sebagai penyebab utama merosotnya nilai tukar mata uang domestik di tengah situasi pasar yang tidak menentu.
"Ya kan itu lihat gejolak, gejolak global juga. Jadi ya kita monitor saja," jelas Airlangga.
Pihaknya menekankan bahwa pemerintah akan tetap waspada dalam melihat perkembangan situasi tanpa mengambil tindakan yang bersifat emosional atau terburu-buru setiap harinya.
"Ya (hanya faktor dari eksternal). Nanti kita monitor aja. Karena ini kan nggak bisa kita, setiap hari reaktif," tambah Airlangga.
Realisasi nilai tukar saat ini telah melampaui target asumsi makro dalam APBN yang ditetapkan sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Menanggapi hal tersebut, Airlangga mengingatkan perihal pembagian tugas otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar di pasar.
"Kita monitor aja dan itu BI tugasnya menjaga," jelas Airlangga.