Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan catatan khusus mengenai kondisi pasar modal Indonesia yang terlihat lesu sepanjang triwulan pertama tahun 2026.
Dilansir dari Suara, minimnya aktivitas di bursa saham domestik tercermin dari jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Hingga periode tersebut, tercatat baru ada satu perusahaan yang melantai di bursa saham pada tahun 2026, yakni PT BSA Logistic Indonesia Tbk (WBSA).
Airlangga menilai bahwa pasar modal memegang peranan krusial dalam menghimpun dana dari para investor untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Rendahnya minat perusahaan untuk melakukan IPO pada awal tahun ini disebut sebagai dampak langsung dari tingginya ketidakpastian kondisi ekonomi global.
"Ini tentu capital market adalah fungsinya untuk menarik dana untuk IPO, yang mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi. Sehingga ini masih dalam pipeline, pipeline-nya belum muncul. Nah ini mungkin perlu dikejar ke depan karena ini salah satu sektor juga yang penting," ungkap Airlangga.
Meskipun saat ini sedang melandai, Airlangga mengingatkan bahwa pasar saham Indonesia pernah mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga empat kali lipat dalam kurun waktu sembilan tahun.
Data historis menunjukkan pada periode 2004 hingga 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat dari kisaran level 1.000 menuju level sekitar 4.200.
Namun, pergerakan pasar saham cenderung fluktuatif sejak tahun 2014 hingga saat ini, terutama akibat dampak pandemi Covid-19 yang sempat menekan performa pasar modal tanah air.
"Jadi sempat kita turun, average-nya baru 5 sampai 6 persen," lanjutnya.
Berbeda dengan kondisi pasar modal, investasi pada sektor riil di Indonesia justru menunjukkan tren pertumbuhan yang positif pada triwulan pertama 2026.
Airlangga memaparkan bahwa nilai investasi yang masuk ke sektor ini telah mencapai angka Rp498,79 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 7,22 persen.
Pertumbuhan investasi di sektor riil ini juga memberikan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja yang mencapai 706.000 orang selama periode tersebut.
Pemerintah memproyeksikan kebutuhan pembiayaan pada tahun 2026 akan mengalami peningkatan yang cukup besar hingga menyentuh angka Rp7.400 triliun.
Kebutuhan pendanaan tersebut diprediksi akan terus tumbuh secara bertahap dan diperkirakan bakal mencapai angka Rp9.200 triliun pada tahun 2029 mendatang.