Airlangga Tegaskan Indonesia Tidak Manipulasi Nilai Tukar Rupiah

Airlangga Tegaskan Indonesia Tidak Manipulasi Nilai Tukar Rupiah
Foto: Ilustrasi Airlangga Tegaskan Indonesia Tidak Manipulasi Nilai Tukar Rupiah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia tidak pernah sengaja melemahkan nilai tukar rupiah demi keuntungan ekspor pada Selasa (28/4/2026). Penegasan ini merespons penilaian Amerika Serikat terhadap sejumlah negara Asia yang dianggap melakukan manipulasi mata uang.

Dilansir dari Money, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini merupakan dampak dari tekanan ekonomi global yang juga dialami oleh mata uang negara lain seperti yen Jepang. Airlangga menyatakan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama pemerintah bersama Bank Indonesia melalui pemantauan makroprudensial yang ketat.

"Bahkan kalau Amerika merasa bahwa beberapa negara di Asia itu melakukan currency manipulation untuk memperkuat daya saing, sengaja memperlemah mata uangnya, Indonesia tidak termasuk dengan negara tersebut. Jadi ini yang terus kita jaga," ujar Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian.

Pemerintah memilih untuk tidak melawan arus pasar dalam menghadapi tekanan eksternal, melainkan menyiapkan berbagai kebijakan perlindungan ekonomi domestik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika pasar keuangan dunia yang fluktuatif.

"Tentu pemerintah tetap menjaga makroprudensial-nya, bersama BI memonitor rupiah. Namun tentu kita tidak against the flow. Kalau flow-nya headwind tentu kita tidak untuk menabrak, tapi dengan berbagai kebijakan," tutur Airlangga Hartarto.

Sebagai langkah konkret menjaga stabilitas dari kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar, pemerintah berencana mempercepat program kemandirian energi melalui sektor kelapa sawit. Penggunaan biodiesel akan diperluas guna menekan volume impor bahan bakar minyak yang membebani neraca perdagangan.

Implementasi mandatori B50 yang mencampurkan 50 persen minyak sawit dengan solar ditargetkan mulai berjalan pada semester kedua tahun 2026. Program ini diproyeksikan mampu memberikan penghematan signifikan bagi anggaran negara serta mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia.

"Biodiesel ini, dengan harga minyak yang semakin tinggi maka delta perbedaan antara harga minyak sawit dan harga BBM akan berkurang, sehingga subsidi-nya malah akan berkurang. Nah saving (penghematan) dari tidak menggunakan solar tetapi menggunakan B50 itu sampai sekitar Rp 48 triliun," jelas Airlangga Hartarto.

Artikel terkait

Rekomendasi