Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, resmi menjalin kemitraan strategis dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas untuk mengembangkan pusat perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) serta produksi komponen di Kertajati, Jawa Barat, pada Rabu (6/5/2026).
Kesepakatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri kedirgantaraan nasional, sebagaimana dilansir dari Ekonomi. Kerja sama tersebut diproyeksikan mencakup transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung visi Indonesia dalam sektor manufaktur pesawat dan layanan purna jual selama dua dekade mendatang.
"Kami melihat sebagai Airbus untuk berinvestasi selama 20 tahun, untuk meningkatkan kemampuan industri Indonesia di bidang teknologi, manufaktur, produksi pesawat, MRO, transfer pengetahuan, capacity building, dan pengembangan SDM," ujar Anand Stanley, Presiden Airbus Asia-Pacific.
Kemitraan ini melibatkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Garuda Maintenance Facility (GMF) untuk memproduksi komponen pesawat tipe A220 guna memenuhi standar global. Saat ini, Indonesia telah memasok komponen untuk berbagai tipe pesawat utama seperti A320, A330, A350, dan helikopter H225.
Langkah ekspansi ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan lalu lintas penumpang udara di Indonesia yang mencapai 7,4 persen per tahun. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan global yang hanya berada di kisaran 3,6 persen.
Berdasarkan data kesepakatan, jumlah armada pesawat aktif di Indonesia diprediksi melonjak dari 550 unit saat ini menjadi sekitar 1.900 unit pada tahun 2045. Hal ini sejalan dengan target peningkatan konektivitas antarwilayah melalui infrastruktur bandara yang lebih efisien.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menjelaskan bahwa dominasi pesawat Airbus di pasar domestik, khususnya tipe A320 yang mencapai 80 persen, menjadi alasan kuat penguatan rantai pasok lokal.
"Karena dalam catatan saya ini, satu unit pesawat A320 saja misalnya membutuhkan 4 juta komponen dari 30 negara termasuk Indonesia," tutur Rachmat Pambudy, Menteri PPN/Kepala Bappenas.
Pemerintah menargetkan industri dalam negeri tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai nilai global guna menekan ketergantungan pada komponen impor.
"Harapannya PTDI bisa menjadi tier 1 supplier bagi Airbus, yang artinya PTDI bisa mulai membuat sayap utuh A220 atau bahkan pesawat, yang nanti akan membangun pabrik di Kertajati," lanjut Rachmat Pambudy.
Di sisi lain, sektor MRO nasional saat ini sedang menghadapi tantangan berupa tingginya biaya operasional dan fluktuasi jumlah pesawat yang beroperasi di tanah air.
"Namun demikian, seharusnya kita harus bisa lebih optimis, bahkan kita harus mempersiapkan diri agar bisa menyambut dan memanfaatkan sepenuhnya prospek cerah dari industri kedirgantaraan, termasuk MRO, untuk kepentingan merah putih," kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.