Ahli Keselamatan Soroti Kesalahan Manuver Pengemudi Bus dalam Situasi Darurat

Ahli Keselamatan Soroti Kesalahan Manuver Pengemudi Bus dalam Situasi Darurat
Foto: Ilustrasi Ahli Keselamatan Soroti Kesalahan Manuver Pengemudi Bus dalam Situasi Darurat.

Kecelakaan bus ALS yang menabrak truk tangki di Muratara serta insiden fatal di Pasaman Barat pada Sabtu (9/5/2026) menjadi sorotan mengenai krusialnya pengambilan keputusan pengemudi dalam situasi darurat. Fenomena manuver yang salah oleh pengemudi kendaraan besar ini kerap dipicu oleh kegagalan identifikasi bahaya, sebagaimana dilansir dari Otomotif.

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengungkapkan bahwa perilaku pengemudi yang justru menghindar ke jalur lawan atau menabrak kendaraan kecil berakar pada penurunan kemampuan kognitif saat panik. Kondisi ini membuat sopir kehilangan kemampuan antisipasi sejak dini.

"Pengemudi yang tidak terbiasa melakukan antisipasi sejak dini akan terjebak dalam tunnel vision. Fokusnya hanya pada satu titik di depannya. Akibatnya, saat ada masalah, keputusannya tidak terencana dan hanya berdasarkan insting bertahan hidup yang sering kali salah," ujar Jusri Pulubuhu, Founder JDDC.

Jusri menjelaskan adanya kecenderungan psikologis di mana otak pengemudi yang tidak terlatih hanya akan menangkap objek yang paling terlihat jelas di depan mata. Hal tersebut menghalangi pengemudi untuk mencari area pelarian yang lebih aman.

"Dalam kondisi panik, kalau tidak dilatih, otak tidak akan sempat mencari jalur pelarian. Seharusnya, pengemudi sudah tahu di mana 'area aman' untuk menabrakkan kendaraan jika memang tabrakan tidak bisa dihindari. Pilihannya adalah objek yang paling lunak atau yang risikonya paling kecil terhadap nyawa manusia," kata Jusri Pulubuhu, Founder JDDC.

Dalam prinsip berkendara defensif, menabrakkan kendaraan ke objek mati seperti pembatas jalan atau lahan kosong memiliki risiko lebih rendah dibandingkan menghantam kendaraan lain. Namun, ketiadaan visi keselamatan membuat banyak sopir melakukan gerakan spontan tanpa perhitungan matang.

"Ini yang saya sebut sebagai manuver tanpa analisa. Karena dia tidak memelihara Safe Vision, dia tidak punya rencana cadangan. Gerakannya spontanitas, dan sering kali refleks itu justru mengarah pada fatalitas yang lebih besar," tutur Jusri Pulubuhu, Founder JDDC.

Rentetan insiden ini menegaskan bahwa operator angkutan besar memerlukan pengemudi yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki ketenangan untuk memilih risiko terkecil saat menghadapi ancaman nyawa di aspal.

Artikel terkait

Rekomendasi