Zurich Life Luncurkan Zurich Critical Care Lindungi 141 Penyakit Kritis

Zurich Life Luncurkan Zurich Critical Care Lindungi 141 Penyakit Kritis
Foto: Ilustrasi Zurich Life Luncurkan Zurich Critical Care Lindungi 141 Penyakit Kritis.

PT Zurich Topas Life (Zurich Life) secara resmi merilis produk asuransi penyakit kritis terbaru bernama Zurich Critical Care sebagai langkah memperkuat perencanaan keuangan masyarakat. Peluncuran ini dilakukan untuk merespons peningkatan risiko penyakit kritis serta lonjakan biaya kesehatan di Indonesia.

Dikutip dari Investortrust, produk ini mengusung pendekatan preventive health care yang memberikan perlindungan bagi nasabah agar bisa fokus pada pemulihan tanpa kendala biaya. Produk ini mencakup perlindungan atas 141 penyakit kritis, yang terdiri dari 88 penyakit tahap akhir dan 53 penyakit tahap awal.

Direktur Zurich Life, Santy Gui, menjelaskan bahwa Zurich Critical Care menawarkan fleksibilitas masa perlindungan hingga 20 tahun atau sampai tertanggung mencapai usia 85 tahun. Produk ini juga dilengkapi fitur perpanjangan otomatis tanpa perlu melakukan seleksi risiko ulang bagi nasabah.

"Produk ini tak hanya memberikan perlindungan atas 141 penyakit kritis yang terdiri atas 88 penyakit kritis akhir dan 53 penyakit kritis tahap awal, termasuk juga angioplasti atau prosedur pembukaan arteri tersumbat yang umum dilakukan pada pasien penyakit jantung koroner, serta manfaat tutup usia," kata Santy Gui.

Tersedia dua pilihan rencana bagi calon nasabah, yaitu Plan Essential yang memprioritaskan perlindungan murni, serta Plan Pro yang menawarkan proteksi sekaligus nilai tabungan. Nasabah dapat memilih masa pembayaran premi mulai dari tiga, lima, hingga sepuluh tahun dengan jumlah premi yang tetap sepanjang masa pembayaran.

Urgensi Perlindungan di Tengah Tren Penyakit Tidak Menular

Langkah Zurich Life ini didasari pada data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa hampir 75% kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular (PTM). Penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke menjadi penyebab terbesar dengan jumlah kematian mencapai hampir 800.000 jiwa per tahun.

Selain risiko kesehatan, tekanan finansial juga menjadi tantangan besar. Laporan Health Trends 2025 dari Mercer Marsh Benefits mencatat tren kenaikan biaya medis di Indonesia menyentuh angka 19% pada tahun 2025, angka yang jauh melampaui tingkat inflasi umum.

ÔÇ£Dengan perlindungan yang tepat, nasabah dapat mengambil keputusan medis lebih cepat dan fokus pada pemulihan tanpa terbebani kekhawatiran biaya,ÔÇØ ujar Santy Gui di Jakarta pada Selasa (27/1/2026).

Pentingnya Deteksi Dini

Praktisi kesehatan dr. Gia Pratama menambahkan bahwa langkah preventif seperti pola hidup sehat, skrining, dan deteksi dini merupakan bagian krusial dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Ia menekankan bahwa kendala non-medis sering kali menghambat tindakan pengobatan yang cepat.

"Tidak jarang pasien menunda atau mempertimbangkan ulang tindakan medis karena berbagai pertimbangan non medis, seperti finansial. Ketika kekhawatiran tersebut terjawab, pasien umumnya dapat lebih fokus menjalani proses pengobatan dan pemulihan," tutur dr. Gia Pratama.

Artikel terkait

Rekomendasi