Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyerahkan bantuan hewan kurban berupa satu ekor sapi jenis Limosin berbobot 1,112 ton ke Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo, pada Senin (25/5). Penyerahan hewan kurban ini dilakukan menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.
Pria yang akrab disapa Zulhas tersebut menekankan bahwa momentum Idul Adha harus dijadikan pijakan bagi masyarakat untuk memperkuat ketakwaan. Menurutnya, momen ini juga menjadi waktu untuk merefleksikan esensi pengorbanan yang melampaui sekadar pembagian materi.
"Momen Idul Adha ini jadi pengingat dan panggilan buat kita. Mari berkorban, bukan cuma berbagi harta, tapi juga sebagai wujud kita mencintai dan mendekatkan diri kepada Allah," ujar Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Ketua Yayasan Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo, KH Aria Muhammad Ali, menyatakan pentingnya penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan lembaga pendidikan Islam setelah kunjungan tersebut. Ia menilai pesantren memegang peran krusial dalam pembentukan karakter generasi masa depan.
Saat ini, Ponpes Bumi Shalawat tengah melakukan ekspansi infrastruktur di atas total aset tanah seluas 25 hektar. Lahan tersebut terbagi menjadi 12 hektar kawasan utama, 7 hektar di wilayah utara, 2 hektar lahan tambahan, dan 3 hektar tanah lama.
"Pembebasan tanah masih terus diupayakan dan pembangunan dipercepat agar target pengembangan pesantren bisa tercapai," kata KH Aria Muhammad Ali, Ketua Yayasan Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo.
Pihak yayasan memproyeksikan bakal mengelola sekitar 35 hingga 40 ekor sapi serta 120 hingga 130 ekor kambing pada Idul Adha tahun ini. Hewan kurban tersebut berasal dari pihak yayasan, wali santri, dan instansi pemerintah.
Meski demikian, KH Aria menggarisbawahi tantangan logistik terkait pola penyaluran bantuan dari pemerintah pusat yang kerap mendadak. Ia mencontohkan bantuan dari Presiden yang biasanya disalurkan melalui Direktur Agrinas, Agus Sutomo.
"Konfirmasinya sering mendadak, dua sampai tiga hari sebelum hari H, bahkan kadang sehari sebelumnya. Kondisi tersebut cukup menyulitkan karena pengelolaan hewan kurban dalam jumlah besar membutuhkan persiapan matang," kata KH Aria Muhammad Ali, Ketua Yayasan Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo.
Dengan kapasitas pemotongan maksimal 13 hingga 15 ekor sapi per hari, pihak pesantren mengonfirmasi bahwa proses penyembelihan akan memakan waktu dua hingga tiga hari. Seluruh daging kurban nantinya akan didistribusikan secara bertahap kepada para guru, santri, serta warga di tiga hingga empat kampung di sekitar wilayah Lebo, Sidoarjo.