PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional yang signifikan sepanjang tahun buku 2025. Dilansir dari Investortrust, perusahaan telekomunikasi ini mengantongi pendapatan sebesar Rp42,49 triliun atau setara 2,67 miliar dolar AS, yang menandakan kenaikan sebesar 23 persen secara tahunan (year-on-year).
Selain lonjakan pendapatan, EBITDA yang dinormalisasi juga merangkak naik 13 persen menjadi Rp20,14 triliun. Laba bersih yang dinormalisasi bahkan menunjukkan lompatan besar hingga 63 persen, mencapai angka Rp3 triliun.
Direktur Utama XLSmart, Rajeev Sethi, memaparkan bahwa tahun 2025 menjadi fase transisi yang sangat krusial bagi perusahaan setelah penggabungan usaha antara XL Axiata dan Smartfren.
"2025 menjadi periode penting bagi XLSmart dalam membangun fondasi untuk transformasi pascamerger," kata Rajeev.
Proses restrukturisasi ini menjadi salah satu perhatian utama di sektor telekomunikasi Asia Tenggara. Para pelaku pasar mengamati kemampuan entitas baru ini dalam menciptakan efisiensi biaya sekaligus menjadi penantang kuat di pasar seluler Indonesia.
Hingga akhir tahun 2025, sinergi hasil merger ini telah menghasilkan penghematan senilai 252 juta dolar AS, melampaui target awal manajemen. Integrasi infrastruktur jaringan juga berjalan cepat dan telah mencapai 70 persen, dengan target penyelesaian menyeluruh pada tahun 2027.
Kendati menunjukkan pertumbuhan operasional yang kokoh, emiten berkode saham EXCL ini memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham. Langkah ini diambil setelah perusahaan mencatatkan kerugian akuntansi non-tunai yang berkaitan erat dengan proses integrasi.
Direktur Keuangan XLSmart, Anthony Susilo, mengungkapkan bahwa percepatan depresiasi aset jaringan lama dan biaya integrasi infrastruktur memicu beban akuntansi hingga mendekati Rp5 triliun.
"Dalam 2025 urutan keuangan kami mencatat kerugian. Itulah mengapa di 2026 kami tidak dapat mendistribusikan dividen," ujar Anthony.
Meski demikian, Anthony menegaskan bahwa bisnis inti perusahaan tetap menorehkan profitabilitas yang sehat setelah mengeluarkan dampak satu kali dari biaya intergrasi pascamerger tersebut.
Guna mempercepat modernisasi jaringan dan ekspansi 5G, XLSmart mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) yang lebih besar, yakni mencapai Rp11,2 triliun pada 2025 dari posisi Rp7,3 triliun di tahun sebelumnya.
"Kami akan lebih disiplin dalam menerapkan investasi untuk modernisasi jaringan dan juga 5G," kata Anthony.
Fokus Ekspansi Jaringan dan Strategi Pelanggan Berkualitas
Menghadapi kebutuhan lalu lintas data seluler di Indonesia yang terus tumbuh dua digit setiap tahunnya, XLSmart menilai kepemilikan spektrum tambahan menjadi aset yang sangat strategis.
Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, memastikan komitmen perusahaan untuk ikut serta dalam lelang frekuensi radio yang akan datang, khususnya pada pita 700 MHz dan 2,6 GHz.
"XLSmart tertarik untuk mendapatkan kedua spektrum tersebut," tutur Merza.
Merza juga berharap regulator dapat menyederhanakan mekanisme lelang, mengingat industri telekomunikasi nasional kini semakin terkonsolidasi dan menyisakan tiga operator utama.
Di sisi komersial, perusahaan mulai mengalihkan fokus strategi di tengah dinamika pelemahan nilai tukar rupiah dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Chief Commercial Officer XLSmart, David Arcelus Oses, menjelaskan bahwa perusahaan kini lebih mengutamakan pertumbuhan pelanggan berkualitas tinggi dibandingkan sekadar mengejar volume pengguna.
"Strategi tidak dapat berubah hanya karena pergerakan rupiah jangka pendek," kata David.
Langkah ini diwujudkan dengan penyesuaian tarif per gigabyte serta pengurangan program promosi gratis demi mengerek pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU). Saat ini, XLSmart mengelola lebih dari 69 million pelanggan di seluruh Indonesia melalui lini merek XL, AXIS, Smartfren, serta layanan fixed broadband dan korporasi.