Kunjungan Wisatawan China ke Jepang Merosot Tajam Akibat Ketegangan Politik

Kunjungan Wisatawan China ke Jepang Merosot Tajam Akibat Ketegangan Politik
Foto: Ilustrasi Kunjungan Wisatawan China ke Jepang Merosot Tajam Akibat Ketegangan Politik.

Sektor pariwisata dan lalu lintas penerbangan antara China dan Jepang mengalami penurunan drastis hingga April 2026 setelah pembatalan massal ribuan jadwal penerbangan terjadi sejak puncak musim sakura pada Maret lalu. Tren negatif ini dipicu oleh rendahnya permintaan perjalanan akibat ketegangan politik antara kedua negara tersebut.

Berdasarkan data Flight Master yang dilansir dari Detik Travel pada Sabtu (25/4/2026), tercatat sebanyak 2.691 penerbangan rute daratan China-Jepang dibatalkan sepanjang Maret 2026. Angka tersebut merepresentasikan tingkat pembatalan sebesar 49,6 persen dari total jadwal yang tersedia.

Sejumlah rute populer bahkan mencatat tingkat pembatalan hingga 100 persen, termasuk layanan dari Bandara Internasional Beijing Daxing menuju Bandara Internasional Kansai. Kondisi serupa terjadi pada rute Shanghai Pudong-Sapporo, Shenyang-Osaka, dan Dalian-Fukuoka yang seluruh jadwalnya tidak beroperasi.

Data dari VariFlight per Minggu (19/4/2026) menunjukkan hanya kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou yang masih menyediakan penerbangan langsung ke Jepang. Sementara itu, Bandara Internasional Wuhan Tianhe telah menangguhkan rute langsung ke Tokyo dan Osaka sejak pertengahan Februari 2026.

Kondisi lesunya mobilitas udara ini berdampak langsung pada jumlah kunjungan orang. Japan National Tourism Organization melaporkan bahwa Jepang hanya menerima 291.600 wisatawan dari China daratan pada Maret 2026, atau merosot sebesar 55,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan jumlah pelancong ini telah terjadi selama empat bulan berturut-turut. Platform perjalanan mencatat tingkat keterisian penumpang pada penerbangan yang tersisa hanya berkisar antara 40 hingga 48 persen, angka yang berada di bawah standar kelayakan industri sebesar 70 persen.

Ketegangan diplomatik menjadi faktor utama di balik anjloknya permintaan pasar. Hal ini bermula sejak munculnya pernyataan kontroversial dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait isu Taiwan yang memicu maskapai China mengurangi kapasitas penerbangan mereka.

Sebagai langkah mitigasi bagi konsumen, maskapai besar seperti Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines memberikan fleksibilitas tiket. Kebijakan pengubahan jadwal atau pembatalan tanpa biaya ini berlaku untuk keberangkatan hingga Sabtu (29/10/2026).

Artikel terkait

Rekomendasi