Wisatawan Beralih ke Destinasi Asia Akibat Konflik Timur Tengah

Wisatawan Beralih ke Destinasi Asia Akibat Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi Wisatawan Beralih ke Destinasi Asia Akibat Konflik Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu pergeseran tren perjalanan wisatawan mancanegara ke arah destinasi yang lebih aman di kawasan Asia. Fenomena ini disampaikan dalam pertemuan media di Jakarta pada Selasa (21/4/2026) sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Vice President Business Development Golden Rama Tours & Travel, Kitty Chandra, menjelaskan bahwa banyak turis yang memilih mengganti tujuan perjalanan mereka ke negara-negara tetangga yang memiliki prosedur perizinan lebih sederhana. Hal ini menjadi solusi bagi para pelancong yang tetap ingin berwisata tanpa risiko tinggi.

"Kalau secara destinasi pastinya beberapa itu switching (beralih) ya ke destinasi Asia yang lebih dekat, lebih mudah soal visanya," kata Kitty Chandra, Vice President Business Development Golden Rama Tours & Travel.

Beberapa lokasi yang menjadi favorit saat ini meliputi Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, dan China karena dinilai menawarkan pengalaman baru yang kompetitif. Salah satu contohnya adalah paket melihat aurora di China yang memiliki durasi perjalanan lebih singkat, yakni sekitar 10 hingga 11 hari dibandingkan rute Eropa Utara.

"Banyak sekali ya, rute-rute China terbaru yang bisa dieksplorasi, seperti Yunnan Shangri-La, Dali, dan Lijiang, itu seperti 'swiss-nya China'," kata Kitty Chandra.

Selain beralih ke luar negeri, sebagian wisatawan nusantara kini lebih melirik destinasi domestik unggulan seperti Labuan Bajo dan Sumba. Langkah ini diambil untuk menghindari ketidakpastian situasi global yang masih terus bergejolak.

"Tujuan destinasi di domestik pun sangat menarik ya, seperti Labuan Bajo. Bahkan banyak yang ke Sumba dan yang lain-lain," kata Kitty Chandra.

Meskipun minat wisata tetap tinggi, Kitty tidak memungkiri adanya dampak ekonomi langsung akibat kenaikan harga minyak dunia yang memengaruhi operasional maskapai. Penumpang kini harus menanggung biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge berkisar antara 10 hingga 35 persen.

"Yang menarik di sini, demand (permintaan) itu tidak hilang. Demand itu kalau kita boleh bilang sekarang lebih segmented (tersemenstasi)," ujar Kitty Chandra.

Lonjakan harga tiket terlihat signifikan pada rute populer seperti Jepang, yang semula Rp 6-7 juta kini merangkak naik menjadi Rp 10 juta untuk kelas termurah. Meski demikian, kursi penerbangan dari maskapai kawasan Asia dilaporkan tetap penuh hingga periode Juni 2026.

"Ini bisa kita lihat dari beberapa airlines (maskapai penerbangan) yang kita switching (alihkan) dari Middle East Carrier ke Asian Carrier itu seperti Singapore Airlines, kenaikannya sekarang fuel aja bisa naik 100 persen, Malaysia Airlines juga naik 100 persen," jelas Kitty Chandra.

Ketersediaan kursi untuk penerbangan jarak dekat maupun jauh semakin terbatas, bahkan banyak jadwal penerbangan yang sudah terjual habis dalam waktu dekat. Fenomena ini menunjukkan bahwa daya beli segmen pasar tertentu masih cukup kuat menghadapi fluktuasi harga.

"Dan menariknya seat (kursinya) enggak ada. Dari yang termahal itu boleh dibilang seat-nya enggak ada. Kalau sekarang kita cari dalam waktu dekat nih, mau ke Singapura, mau ke mana aja penuh sampai bulan Juni," sambung Kitty Chandra.

Hingga Agustus 2026, stok kursi kelas ekonomi di sejumlah maskapai besar diprediksi tetap menipis. Pihak biro perjalanan menyatakan akan tetap menyesuaikan layanan agar tetap memberikan nilai terbaik bagi konsumen di tengah kenaikan tarif avtur.

"Jadi kami masih positif ya untuk segala perubahan yang ada dan Golden Rama sendiri, dengan kenaikan harga avtur ini, berusaha memberikan layanan dan dalam budget traveling dan segala macam tentunya tidak mengurangi nilai dari perjalanan itu sendiri," pungkas Kitty Chandra.

Artikel terkait

Rekomendasi