Kalurahan Banaran di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, resmi meluncurkan konsep wisata minat khusus berbasis konservasi lingkungan dan potensi kuliner lokal pada Kamis (7/5/2026). Pengembangan ini mencakup pengamatan burung migran, pelestarian penyu, hingga edukasi ekosistem mangrove di pesisir selatan.
Daya tarik utama yang ditawarkan kepada pengunjung adalah keterlibatan langsung dalam kegiatan pelestarian alam yang dipadukan dengan pengalaman budaya masyarakat setempat. Dilansir dari Detik Travel, skema wisata ini sengaja dirancang bukan sebagai wisata massal, melainkan fokus pada aspek edukasi dan pemberdayaan ekonomi warga.
Ketua Desa Wisata Banaran, Duta Andika, menjelaskan bahwa seluruh potensi yang dikembangkan merupakan aset yang selama ini memang sudah hidup berdampingan dengan masyarakat Banaran.
ÔÇ£Pariwisata di Banaran berbasis konservasi,ÔÇØ kata Duta saat ditemui di Banaran, Kamis (7/5/2026).
Salah satu aktivitas unggulan adalah pengamatan burung migran karena pesisir Banaran menjadi titik singgah jalur migrasi burung dari Jawa hingga Bali. Wisatawan juga diberikan kesempatan mengikuti proses penyelamatan telur penyu hingga pelepasan anak penyu ke laut lepas.
ÔÇ£Tujuannya bukan sekadar wisata, tetapi edukasi konservasi agar pengunjung ikut memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir,ÔÇØ kata Duta.
Selain alam, sektor kuliner menjadi pilar penting melalui peresmian Kampung Lele Asap di Dusun Jati pada Rabu (6/5/2026). Tradisi pengasapan lele secara turun-temurun ini kini diarahkan menjadi daya tarik wisata di mana pengunjung bisa melihat langsung proses produksi hingga pemasaran ke pasar tradisional.
ÔÇ£Lele asap ini sebelumnya hanya sesuatu yang diperjualbelikan. Sekarang kami ingin mengangkatnya menjadi sesuatu yang punya nilai jual di bidang pariwisata,ÔÇØ kata Duta.
Terdapat delapan pengrajin yang mampu memproduksi sekitar setengah ton lele asap setiap harinya untuk memenuhi permintaan pasar di Bantul dan Kulon Progo. Pengelola kini menyusun paket menginap yang mengintegrasikan seluruh aktivitas tersebut menjadi satu rangkaian pengalaman perjalanan bagi wisatawan.
Pemerintah daerah juga berencana memperbaiki akses menuju lokasi melalui pembangunan ulang Jembatan Trisik. Upaya pengembangan ini tetap berjalan meskipun pengelola masih menghadapi tantangan berupa masalah sampah kiriman dari muara sungai dan abrasi yang mengancam garis pantai.