Warga Villa Pamulang Mas Tolak Rencana Pembangunan Tanggul Tangsel

Warga Villa Pamulang Mas Tolak Rencana Pembangunan Tanggul Tangsel
Foto: Ilustrasi Warga Villa Pamulang Mas Tolak Rencana Pembangunan Tanggul Tangsel.

Sebanyak 90 persen warga RT 002/008 Perumahan Villa Pamulang Mas Tahap II, Tangerang Selatan, menyatakan penolakan terhadap rencana pembangunan tanggul setinggi satu meter pada Rabu (15/4/2026). Penolakan ini dilakukan karena pembangunan proyek milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan tersebut dinilai berisiko merusak lingkungan sekitar.

Dilansir dari Megapolitan, keberatan warga ini mencuat setelah dilakukan sosialisasi oleh pihak pemerintah setempat sekitar tiga bulan yang lalu. Proyek yang awalnya dirancang untuk mengatasi banjir tersebut justru dianggap warga sebagai potensi masalah baru bagi pemukiman mereka.

Sekretaris RT 002, Heri Pratikto, menjelaskan bahwa dari sekitar 70 kepala keluarga yang memberikan suara, mayoritas besar tidak menyetujui rencana tersebut. Ia berargumen bahwa penebangan pohon demi beton bukan langkah tepat.

ÔÇ£Kalau di RT 02 itu hampir 90 persen warga menolak. Total ada sekitar 70 kepala keluarga yang ikut ambil suara dan 90 persennya nolak,ÔÇØ ujar Heri Pratikto, Sekretaris RT 002.

Keputusan kolektif ini didasari oleh kekhawatiran hilangnya area resapan air jika vegetasi di bantaran sungai dihilangkan. Warga lebih menghargai keberadaan pohon sebagai peneduh dan penyerap air alami.

ÔÇ£Kalau pohon-pohon itu dipotong, nanti jadi panas. Resapan air juga berkurang, itu yang dikhawatirkan warga,ÔÇØ kata Heri Pratikto, Sekretaris RT 002.

Selain aspek ekologis, warga juga mencemari kendala teknis yang mungkin timbul jika tanggul permanen dibangun. Struktur fisik tersebut dikhawatirkan akan menjebak air di dalam lingkungan warga lebih lama saat hujan turun.

"Kalau dibuat tanggul, air dari dalam rumah atau lingkungan bisa terhambat. Takutnya malah airnya tidak bisa keluar dan jadi tergenang lebih lama,ÔÇØ kata Heri Pratikto, Sekretaris RT 002.

Wilayah ini memang memiliki riwayat banjir selama satu dekade terakhir dengan ketinggian air antara 30 hingga 50 sentimeter. Intensitas banjir tersebut biasanya terjadi satu kali dalam setahun.

"Itu biasanya setahun sekali,ÔÇØ imbuh Heri Pratikto, Sekretaris RT 002.

Masyarakat mengusulkan solusi alternatif berupa revitalisasi saluran air eksisting yang mencakup dua aliran sungai selebar tiga meter. Salah satu aliran sungai diketahui sudah tidak berfungsi maksimal sejak dibangun pada 2014 lalu.

ÔÇ£Di sebelah sana ada kali juga, dibuat dari tahun 2014, tapi sudah sekitar 10 tahun ini tidak maksimal. Lebih baik itu dikeruk atau diperdalam supaya alirannya lancar,ÔÇØ kata Heri Pratikto, Sekretaris RT 002.

Warga hingga kini masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah kota setelah pertemuan pertama belum menghasilkan keputusan final. Dialog lebih lanjut diharapkan menghasilkan kebijakan yang lebih hijau.

ÔÇ£Baru satu kali pertemuan. Rencana pembahasan lanjutan juga sempat ditunda, jadi sekarang masih menunggu,ÔÇØ jelas Heri Pratikto, Sekretaris RT 002.

Aspirasi warga difokuskan pada pengoptimalan infrastruktur yang sudah tersedia tanpa harus mengubah bentang alam secara drastis. Penolakan ini telah sampai ke telinga pimpinan daerah.

ÔÇ£Harapannya ada solusi yang sama-sama baik. Kalau bisa pohon tidak ditebang, dan saluran air yang ada dimaksimalkan,ÔÇØ kata Heri Pratikto, Sekretaris RT 002.

Menanggapi polemik tersebut, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memaksakan kehendak. Ia menekankan bahwa peninggian tanggul sebenarnya adalah kajian teknis paling efektif.

ÔÇ£Kalau memang tidak dilakukan, ya kita sampaikan kepada warga bahwa ada konsekuensinya terkait masalah banjir, sambil kita juga cari solusi lain,ÔÇØ kata Pilar Saga Ichsan, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan.

Terkait isu lingkungan, pemerintah menawarkan opsi relokasi tanaman jika warga mengizinkan pembangunan dilanjutkan. Koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup akan dilakukan untuk pemindahan pohon tersebut.

ÔÇ£Bisa direlokasi kalau misalkan ada lahan lain yang bisa ditanami, ya kita lakukan penanaman. Nanti akan minta ke DLH, tapi ya balik lagi kepada warga,ÔÇØ jelas Pilar Saga Ichsan, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan saat ini berada dalam posisi menunggu kesepakatan akhir dari warga setempat sebelum mengambil langkah teknis berikutnya di lapangan.

ÔÇ£Kalau tidak, ya kita cari solusi yang lain apakah bisa dengan solusi yang lain,ÔÇØ ucap Pilar Saga Ichsan, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan.

Artikel terkait

Rekomendasi